OKA Art News

News Detail

(Un)disposable Nature: Rambu di Ujung Sejarah Peradaban

Oleh Arya Suharja*

Apakah yang membedakan manusia purba dan manusia modern abad ini? Jawabannya banyak. Salah satu jawaban menggelitik diberikan Paulo Freirre yang mengatakan bahwa manusia purba meninggalkan hutan lebat dan alam yang lestari di belakangnya, sedangkan manusia modern meninggalkan hutan gundul dan tanah yang gersang.

Invensi atau penemuan awal peradaban manusia bersifat sangat mendasar. Teknologi, dalam pengertian awal, hanya berarti “perpanjangan tangan” manusia untuk mengatasi keterbatasan fisiknya untuk memenuhi kebutuhan untuk bertahan hidup. Manusia purba hidup di gua-gua untuk berlindung dari ancaman alam, mengumpulkan dedaunan dan serat kayu untuk menjaga kehangatan tubuhnya. Mereka menemukan pecahan batu pipih untuk memotong, sebuah awal dari penemuan kapak batu. Nenek moyang peradaban manusia menciptakan galah sebagai perpanjangan tangannya, menangkap percikan api dari membenturkan dua buah batu atau menggesekkan kayu kering untuk membuat api, Berupaya bertahan hidup (survive) dan menghadapi situasi batas merupakan rangsangan awal bagi perkembangan awal peradaban. Meski lebih bersifat intuitif, lambat laun terjadi perkembangan budhi. Mereka sepenuhnya menjadi bagian dari alam semesta.

Ketika di Abad Pertengahan Des Cartes mencetuskan ungkapan “Aku berfikir maka aku ada”, Cogito Ergo Sum, orientasi manusia terhadap alam samasekali berubah. Manusia menjadi pusat dari perubahan dalam kebudayaan manusia, dan pada akhirnya pusat perubahan alam semesta. Penemuan demi penemuan susul menyusul disemangati niat untuk memudahkan kehidupan manusia dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya yang tidak berujung. Ilmu pengetahuan mematahkan mitos-mitos dan ”membunuh” dewa-dewa. Kepemilikan dan penguasaan (property) diberi landasan hak, dan eksploitasi atas alam tidak terhindarkan. Sumber-sumber kekayaan alam menjadi rebutan, kepentingan ekonomi menjadi pemberi arah kebijakan politik. Ironi ini diabadikan dengan menamakan ufuk perubahan dalam kebudayaan ini sebagai Zaman Pencerahan. Ironi kemoderenan berikutnya adalah kecenderungannya untuk menyeragamkan kebutuhan dan selera, dan ketamakan negara-negara maju dalam penguasaan faktor-faktor produksi dan pasar, paradigma yang menciptakan kesenjangan yang menganga di muka bumi.

Mahatma Gandhi pernah mengingatkan: “…this earth is enough for mankind’s needs, but not their greed”. Namun kesenjangan makin menjadi, dan bumi makin menderita oleh deforestasi, kerusakan lingkungan, kelaparan, dan perang perebutan kuasa atas sumber-sumber ekonomi-politik. Di akhir dasawarsa 1970-an, sekelompok cendekiawan dunia yang dikenal sebagai Club of Rome menerbitkan risalah diskusi mereka yang diberi judul Mankind at the Turning Point. Dr. Soedjatmoko menjadi satu-satunya orang Indonesia dalam kelompok kecil yang berwibawa ini. Mereka mengingatkan bahwa masa depan umat manusia berada di ujung tanduk apabila manusia tidak segera merubah orientasi dan arah perkembangan penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemaslahatan umat manusia secara keseluruhan.

Bukan hanya perang, bukan hanya ancaman nuklir, bukan saja struktur sosial yang liberal, kapitalistik dan fanatisme sempit yang membawa masa depan kemanusiaan di ambang kehancuran, gaya hidup hedonis, sifat konsumtif dan sikap sehari-hari setiap individu memberi sumbangan besar bagi kehancuran umat manusia. Manusia bersikap dan berperilaku seolah bumi dan alam ini adalah barang sekali pakai, yang setelah tinggal ampasnya, dapat dibuang begitu saja.

Keserakahan dan ketidak-adilan akan menjerumuskan manusia secara menyeluruh, tanpa melihat apapun ras, kebangsaan, atau keyakinannya. Karena bumi ini memang benar bukan semata milik kita yang hidup di zaman ini, melainkan titipan anak cucu kita. Perhelatan pertemuan para pemimpin dunia terhadap isu pemanasan global di Bali membuktikan, bahwa tidak ada teknologi yang dapat “menyembuhkan” tercabik-cabiknya lapisan ozon atmosfir bumi. Kesimpulan akhir tentang perlunya mitigasi dan adaptasi adalah dua kata yang menunjukkan bahwa kita sudah sampai di penghujung zaman. Hanya usaha-usaha penanggulangan dan penyesuaian yang dapat dilakukan, itupun hanya untuk meminimalisir dan menunda akibat pemanasan global lebih jauh. Usaha itu mesti disadari setiap manusia, dan dilakukan konsisten terus menerus. Selebihnya, berdoalah lebih sering dan lebih khidmat.

 

______________

 

Proses kreatif dan serangkaian karya-karya rupa Oka Astawa mengusung tema “leteh”, sebuah idiom dalam bahasa Bali yang berarti kotor, cemar, tidak suci lagi. Presentasi dari perenungan, proses kreatif, dan karyanya menegaskan pesan eksplisit tentang bumi dan alam semesta, yaitu bahwa alam bukanlah tisu, atau tas kresek, atau jarum suntik yang sekali pakai, laluh arus dibuang sebagai sampah. Bahwa isu lingkungan bukanlah masalah para petinggi negara, para tokoh, para pendekar lingkungan hidup, tetapi isu penting yang sudah masuk kerumah dan menjadi urusan pribadi setiap orang. Bahwa setiap orang tidak bisa lagi menghindar dari kebutuhan untuk mengambil sikap, berubah dan melakukan tindakan nyata dan terukur untuk menanggapinya.

Arak-arakan manusia tradisional yang berputar-putar dalam upacara yang rumit, atau kesibukan orang modern yang membuang umurnya hanya untuk dapat dikatakan modern, sama-sama menggelikan. Oka Astawa bagai menolak menghakimi dan menunjuk kambing hitam. Tetap saja kita dibuatnya merenung, tersenyum, bahkan mentertawakan diri-sendiri.

Tidak perlu hanya menghakimi, atau mencari kambing hitam, karena kini dapat dipastikan setiap orang turut menjadi penyebab kondisi fatal ini. Kegelisahan Oka Astawa sebagaimana tergambar dari karya-karya dwimatra dan trimatranya merupakan rambu peringatan. Ada teriakan, juga suara parau dan nyaris frustrasi, ada kemarahan dan juga kekecewaan. Namun demikian kita juga samar-samar dapat menangkap enthusiasme, sikap optimis dan harapan dari pesan-pesan yang hendak disampaikannya.

Leteh atau kekotoran akibat kesalahan massal manusia tidak hanya memerlukan usaha purifikasi sebagaimana orang Bali Hindu memerlukan melaksanakan serangkaian Buthayajna (kurban untuk alam semesta) yang kompleks. Mitigasi dan adaptasi justru tidak boleh hanya menjadi mantra baru, jatuh hanya menjadi penghias pidato pejabat dan aktifis. Karena perlombaan antara usaha penanggulangan dan penyesuaian yang dilakukan manusia di muka bumi melawan merosotnya daya dukung alam oleh perbuatan mereka sendiri, adalah kenyataan sehari-hari kita di zaman ini. Sifat tidak peduli karena abai akan kenyataan ini, jelas dosa terbesar umat manusia zaman ini.

Rambu Oka Astawa boleh jadi tidak menarik perhatian sebagian dari kita, tetapi hal ini tidak mengurangi pentingnya pesan peradaban yang hendak diteriakkannya lantang. Figur manusia dalam kanvasnya bagai sosok manusia-manusia terakhir di ujung peradaban. Keparauan suara dalam sampaikan pesan justru tegaskan urgensi pesannya. Mereka bisa jadi seseorang yang kita tidak kenal sama sekali.  Ia juga bisa seseorang yang sangat dekat, bahkan yang sangat kita kasihi. Atau seseorang itu adalah diri-sendiri, namun setiap kali –lagi-lagi—kita menolak untuk jujur.

Oka Astawa tidak boleh berhenti belajar. Ia tidak patut berhenti gelisah dan berkarya. Yang diperlukannya kini memanglah jarak yang membangun dan mematangkan perspektif. Dengan satu tema besar ini saja, terbuka ruang eksplorasi yang tidak terhingga. Yang diperlukannya memang lebih banyak waktu untuk berproses. Residensial di Rumah Budaya Tembi Yogjakarta bisa jadi memang kebutuhannya untuk mengendapkan renungannya, mematangkan dan menguji terus ketrampilannya. Sebagaimana ia selalu tunjukkan, semangatnya telah mendorongnya selalu berada di jajaran depan, memanfaatkan, bahkan menciptakan momentumnya sendiri.

Andai bumi ini disposable. Andai tersedia jajaran bumi-bumi baru di rak mini market yang mengepung kampung kita…  Andai cukup hanya berandai-andai.