Palemahan ; Ketika I Gede Oka Astawa Bertutur Tentang Alam Dalam Karyanya
Oleh ; I Made Susanta Dwitanaya
Ada berbagai metode dan strategi yang dipilih seniman dalam mengisi ruang kreativitasnya. Mulai dari pergulatan diri, dalam studio, meramu gagasan mengkonstruksi berbagai elemen rupa hingga terlahir karya. Dalam titik ini seniman larut dalam proses pencarian ke dalam ruang personalnya, mengekspresikan kegelisahannya melalui medium artistik tertentu. Entah dua dimensi maupun tiga dimensional. Dalam proses ini seniman melakukan dialog dengan dirinya sendiri menggali kemungkinan – kemungkinan pencarian dan eksplorasi visual. Teknik medium dan cara presentasi serta konten tematik menjadi wilayah pencarian ke dalam diri seniman itu sendiri. Karya kemudian menjadi ungkapan personal seniman. Seniman menjadi sang subjek utama yang berdiri sebagai “orator “ visual yang bertutur dengan bahasa rupa yang spesifik, yang kemudian coba dibagi pada apresiator dalam satu momentum, semisal pameran sebagai bentuk paling umum presentasi seniman.
Selain pergulatan dalam eksplorasi di ruang personal, seniman juga kerap melakukan kerja kerja artistik yang lebih cair.Ia tidak lagi bergulat dengan dirinya sendiri di dalam ruang gagasan personalnya. Ia berusaha untuk melibatkan berbagai personal ataupun individu individu yang lain sebagai mitra dalam proses dialog sembari menggali kemungkinan kemungkinan bentuk dan metode presentasi. Kerja – kerja kolaboratif ,baik yang terjadi antara seniman dengan seniman, seniman dengan komunitas, ataupun seniman dengan publik yang lebih luas, adalah kecenderungan yang juga kerap dipilih seniman sebagai bentuk perluasan dari sebuah kerja kreatif.
Kedua kecenderungan model proses kreatif seniman seperti yang terpapar diatas, baik yang bersifat personal maupun kolaboratif bagi sebagian seniman ada yang dipilih secara tegas dalam artianya hanya suntuk pada salah satu dari kedua model penciptaan saja. Atau ada yang secara cair mencoba bermain secara ulak alik diantara kedua model penciptaan tersebut. IGede Oka Astawa, salah satu perupa muda Bali alumni dari ISI Yogyakarta ini dalam amatan penulis adalah tipikal perupa yang berada diantara dua model penciptaan tersebut. Sembari suntuk dalam proses kreatif secara personal di studionya yang terletak di kawasan Pangkung Tibah Tabanan Bali, ia juga kerap melakukan kerja – kerja kolaboratif baik dengan beberapa personal (seniman), komunitas seni, bahkan masyarakat umum. Sehingga dalam membaca bentangan “landscape” kreativitas Oka kita tidak dapat terlepas dari pembacaan terhadap dua kutub yang menjadi basis dari proses kreatif Oka sebagai seniman. Kedua ruang kreatif Oka tersebut sesunguhnya kerap hadir secara bersamaan, sebab dalam beberapa event pameran tunggalnya sekalipun Oka kerap melakukan aktivitas yang melibatkan kerja kerja kolaboratif baik dengan personal maupun komunitas. Kesenian Oka adalah irisan dari ruang kolaboratif dan personalnya,inilah yang menurut penulis menarik untuk dicermati dalam membaca kesenimanan perupa muda yang satu ini.
Oka Dalam “Ruang” Kolaboratif
Kolaborasi sesungguhnya bukanlah hal yang baru dalam proses kreatif Oka sebagai perupa. Sejak tahun 2011 kecenderungan kerja kerja kolaboratif pada model aktivitas kreatif Oka mulai terlihat. Berdirinya Oka Art Project, sebagai wadah bagi pergerakan kesenimanan Oka dijiwai oleh gagasan kerja kolaboratif dan membangun jejaring kreatif dengan banyak pihak. Tercatat sejak diluncurkan Oka Art Project telah melakukan aktivitas kerja kerja kolaboratif dengan berbagai komunitas seni rupa (terutama komunitas perupa muda) di Jogyakarta seperti komunitas Tempat Kencing (TK) , Komunitas Tangan Reget (TR) , Komunitas Titik Lenyap (TL) kerja kolaboratif tersebut adalah rangkaian atau bagian dari peristiwa pameran tunggal Oka Astawa yang bertajuk “Menjawab Kegelisahan”. Tahun 2012 Oka Art Project juga memperluas jejaring kolaboratifnya hingga ke Bali. misalnya berkolaborasi dengan komunitas Tempat Kencing dan beberapa perupa muda Bali menggelar pameran yang bertajuk “ Hydro Pirates” di GK Art Space.
Yang menarik untuk dicatat adalah pada tahun 2012 Oka Art Project dan kurator muda Hendra Himawan mendirikan sebuah lembaga bernama WASH (Weekly Art Sharing). Wadah yang tercetus dari dialog intensif antara Oka Astawa dengan Hendra Himawan ini berkonsentrasi pada pembentukan sebuah momentum dialogis antara berbagai personal maupun komunitas perupa muda yang meliputi forum diskusi, presentasi gagasan dan proses kreatif perupa muda. Yang menarik dicatat pula wadah ini menjadikan ruang ruang studio, kos kosan mahasiswa, tempat tongkrongan komunitas , serta kampus sebagai ruang aktivitas, seperti diskusi, presentasi, dan pergerakan lainnya. Muara dari kegiatan WASH ini adalah upaya pendokumentasian, yang tercatat secara terstruktur dan representatif dalam bentuk penerbitan buku secara berkala termasuk juga pameran dokumentasi proses para perupa muda yang terlibat.
Pada tahun 2014 , dalam momentum pameran tunggalnya yang bertajuk I+DIALOG+I di Taman Budaya Yogyakarta, Oka Art Project juga melibatkan kerja kerja kolaboratif dengan berbagai pihak. Diskusi seni “Jejaring Komunitas” yang melibatkan beberapa komunitas seperti Giginyala, Kukomikan, Tangan Reget, dan Perupa Indonesia Timur adalah bentuk dialog yang mencoba menggali dan merumuskan konsep konsep dan berbagai kemungkinan kerja kolaboratif dengan basis komunitas. Disamping acara diskusi yang melibatkan komunitas perupa muda, Oka Art Project juga menghadirkan pemutaran film yang merupakan hasil wawancara Oka dengan tiga perupa senior Bali yakni Made Wianta, Nyoman Erawan, dan Pande Supada. Serangkaian pameran tersebut juga digelar diskusi yang bertajuk “Ketika Orang Bali Merantau” dengan pembicara Entang Wiharso, I Gede Arya Sucitra, dan Gede Oka Astawa sendiri. Diskusi tersebut mencoba untuk memperbincangkan tentang posisi Oka Astawa sebagai seorang seniman di tengah konstelasi kultural Bali yang menjadi entitas di mana Ia dilahirkan, bagaimana persinggungan dirinya sebagai seniman dengan sistem sosial kemasyrakatan Bali yang masih kental dengan adat dan tradisinya, salah satunya adalah adanya keharusan bagi Oka Astawa selaku anak tunggal untuk menjalankan kewajiban serta hak sebagai bagian dari warga adat kelak, sehingga pulang ke Bali adalah sebuah keniscayaan yang harus Oka lakukan sebagai bagian dari pengampu dan penerus dari sistem adat kemasyarakatan.
Tahun 2014 adalah salah satu point penting yang perlu dicatat dari perjalanan Oka sebagai perupa muda. Tahun 2014 adalah tahun dimana Ia telah menyelesaikan proses studinya di Yogyakarta dan Ia memilih pulang ke Bali, ke kampung halamannya sebagai sebuah bentuk tanggung jawabnya sebagai anak tunggal yang menjadi penerus dari kewajiban untuk menjalankan adat dengan segala sistem sosialnya. Oka menyadari pilihan ini, sesadar sadarnya dan seyakin yakinnya.Baginya tak sedikitpun ada penolakan apalagi perlawan terhadap kondisi tersebut.Oka memilih jalan untuk menselaraskan kesenimanannya dengan realitas dirinya sebagai orang Bali, anak tunggal, yang tentu saja memiliki tanggungjawab yang besar sebagai penerus dari partisipasi sosial keluarganya atas pranata kemasyarakatan bernama adat tersebut.Karena bagi Oka kesenian dan kehidupan adalah sesuatu yang tak terpisahkan. Dimanapun Ia berada maka Ia akan tetap menjaga nyala api kreatifitas dan semangat berkeseniannya agar tidak padam.
Ideologi berkesenian Oka yang telah Ia bangun di Yogyakarta dengan kolaborasi sebagai landasannya, tetap Oka bawa sampai ke Bali. Dimulai dengan membangun ruang studio sekaligus ruang presentasi karya dan diskusi di sekitar tempat kelahirannya di Pangkung Tibah , Tabanan Bali. Pada acara launching ruang tersebut Oka Art Project juga menghadirkan pameran seni rupa yang dalam prosesnya didahului dengan proses diskusi dan sharing dalam sebuah wadah “Bali Young Art Project” dalam Bali Young ART Project seri yang melibatkan tujuh perupa muda dari ISI Denpasar. Wadah Bali Young Art Project tersebut menurut Oka Astawa diniatkan sebagai bagian dari program WASH yang telah Ia dan Hendra Himawan gulirkan pada tahun 2012 di Yogyakarta. Selanjutnya Oka Art Project menggulirkan lagi kerja kerja kolaboratif semisal “Menanam Hijau” yang merupakan bentuk kerja kolaboratif antara perupa Wayan Sudarna Putra (Nano) dengan project instalasi “Menanam Air“ dengan project “Kem(Bali) Hijau” dari Oka Astwa, momentum kolaboratif yang dilaksanakan pada hari Tumpek Wariga (hari suci untuk mengupacarai tumbuh tumbuhan di Bali).
Tidak hanya berkolaborasi dengan para perupa ataupun pihak pihak yang ada dalam lingkup medan sosial seni rupa saja. Oka Astawa melalui Oka Art Project juga mencoba menggali kemungkinan – kemungkina kerja kerja kolaboratif dengan berbagai pihak yang lebih luas dalam hal ini masyarakat di sekitar lingkungannya terutama kalangan generasi muda.Oka tampaknya sadar untuk menggerakkan basis basis pranata sosial informality semisal pemuda untuk diajak melakukan kerja kerja kreatif dalam basis kesenian untuk menyuarakan isu isu tertentu semisal isu lingkungan.Ia mencoba memakai pola pola negosiasi atau pendekatan kepada generasi muda dengan memanfaatkan instrument instrument sosial yang lekat dengan kehidupan sehari hari masyarakat di sekitarnya. Seperti meluncurkan Open Studio dan Warung Mini yang menjadi tempat untuk sharing dan menyerap kegelisahan anak anak muda di kampungnya sembari memetakan pola pola dan metode aksi yang tepat. Dari proses dialog yang cair dan informal tersebut tercetuslah beberapa aktivitas yang melibatkan para anak muda di sekitar tempat tinggal Oka tersebut,antara lain Aksi bersih-bersih pantai dan pemasangan karung tempat sampah di pantai Pangkung Tibah, Tanah Lot, – Pembuatan karya patung “Manusia Nyampah” dari bahan sampah plastik dan sampah kayu yang ia pungut dari pantai. Aktivitas kolaboratif tersebut adalah rangkaian dari pamerantunggalnya “Mobilitas Tourisme” yang dilaksanakan di Sangkring Art Project pada tahun 2015.
Ditahun 2016 ada satu hal juga yang menarik dicermati dari bagaimana Oka memaknai sebuah peristiwa kolaborasi.Lewat program EcoKo Green Project Art Oka astwa membuat berbagai desain yang kemudian diaplikasikan dalam bentuk clothing t-shir.Yang menarik adalah bagi siapa saja yang membeli produk t-shirt tersebut mendapatkan satu batang bibit pohon untuk ditanam.Bagi Oka interaksi antara dirinya dan pembeli kaos karyanya yang mendapatkan hadiah sebatang pohon tersebut juga adalah bentuk kolaborasi. Oka memaknai kolaborasi sebagai sesuatu yang kaya akan berbagai kemungkinan kemungkinan baik secra format, maupun konten. Dalam pameran EcoKo Green Project Art yang diselenggarakan di Lingkara , Oka tidak hanya memamerkan karya – karyanya tapi juga mengadakan momen diskusi yang diselenggarakan serangkaian dengan acara pembukaan pamerannya. Diskusi yang melibatkan berbagai kalangan seperti para aktivis dan lembaga lembaga yang berkonsentrasi pada isu lingkungan berupaya untuk membuka kemungkinan kemungkinan kolaborasi antara Oka sebagai seniman dengan berbagai pihak yang selama ini berperan aktif dalam menjalankan upaya pelestarian lingkungan.
Oka Dalam ”Ruang” Personal
Karya seni rupa hadir dalam irisan antara bentuk, isi, dan seni itu sendiri.Karya seni rupa ketika berposisi sebagai wahana penyampaian gagasan senimannya sesunguhnya mengandung berbagai lapisan yang kompleks. Dalam selembar kanvas berdimensi panjang kali lebar itulah sebuah image hadir sebagai sebuah ” anyaman” antara bentuk, tema, serta pernyataan ataupun interpretasi sang seniman pada subject matter tertentu. Pada titik inilah karya seni rupa hadir dalam “bahasanya” sendiri , menyuarakan apa yang sedang hendak disuarakan atau dipresentasi kepada apresiatornya dalam sebuah momentum atau perisrtiwa dalam institusi tertentu di medan sosial seni rupa itu sendiri. Oka Astawa adalah salah satu tipikal perupa muda Bali yang dalam proses kreatifnya selalu berada dalam irisan antara wilayah atau “ruang” kolaboratif dan personalnya “ruang” kolaboratif Oka sudah terpaparkan dalam ulasan diatas, kini adakala kita mencoba menengok “ruang” personal dari proses kreatif Oka Astawa.
Membaca Oka sebagai perupa dalam “ruang” kreatifitas personalnya adalah dengan mencoba menelisik bagaimana Oka menumpahkan gagasan, menghadirkan opininya yang secara spesifik tertuangkan dalam karyanya.Berhadapan dengan sehamparan visual pada kanvas – kanvas Oka Astawa yang segera dapat terbaca adalah sebentuk abstraksi. Cipratan maupun lelehan yang merupakan karakteristik artistic yang umum kita lihat pada karya – karya pelukis abstrak adalah hal yang dominan pada karya – karya Oka. Namun cipratan cipratan tersebut terkontruksi menjadi figur – figur dalam berbagai gestur yang terkadang menyiratkan semangat, gejolak, dan kondisi emosional lainnya termasuk juga gestur yang terlihat natural wajar apa adanya. Figur – figur pada karya Oka adalah figur figur anonim, ia bisa menjadi (si)apa saja, bisa saja menjadi dirinya, bisa juga menjadi orang lain, bisa juga menjadi kita, atau bahkan menjadi representasi dari alam itu sendiri.
Cara Oka dalam menghadirkan dan mengkontruksi figur – figur tersebut juga menarik untuk dicermati. Pertama Oka membiarkan segala emosinya tertumpahkan Ia membuat cipratan –cipratan, lelehan – lelehan yang meluber begitu saja pada satu bidang kanvas. Kemudian Ia melakukan semacam penyeleksian dari hasil tumpahan emosinya tersebut dengan cara memotong – motong bagian dari aneka rupa efek visual tersebut. Potongan – potongan tersebut kemudian ia pindahkan ke bidang kanvasnya yang baru, Ia tata dan kontruksi sedemikian rupa membentuk figur – figur dalam gestur tertentu sesuai dengan gagasan tematik yang hendak Ia sampaikan dalam karyanya. Kerja bertahap dan berlapis, yang ber-ulak – alik dari upaya membebaskan dan membiarkan sepenuhnya emosi tertumpah dalam menciprat lalu berlanjut pada upaya menata kembali, sesuatu yang terlihat “liar” bebas tanpa control tersebut menunjukkan suatu permainan emosi pada diri Oka. Sebuah negosiasi antara keliaran, ekspresif untuk menjadi suatu yang tertata.Ada transformasi dari suatu kondisi disorder menuju order.
Menyimak cara kerja Oka dalam menghadirkan karyanya ini, menurut amatan penulis adalah upaya Oka yang seperti sedang membongkar dan mempertanyakan kembali tentang metode melukis secara ekspresionistik. Dalam praktik melukis abstrak ekspresionistik yang dipahami selama ini adalah upaya untuk menumpahkan ekspresi dan emosi sang seniman secara bebas, image, representasi, adalah suatu yang bukan menjadi tujuan melainkan bagaimana rupa itu hadir secara apa adanya, tumpah begitu saja, yang tersaji kemudian adalah sehamparan visual yang formal, otonom, tanpa terbebani dengan muatan di luar perkara visual itu sendiri. Namun Oka melakukan hal yang sebaliknya, Ia mengambil jalan melingkar, Ia berupaya menjadikan sesuatu efek visual non representasional menjadi sesuatu yang representasional. Ada pernyataan yang hendak dibangun, ada persoalan di luar perkara estetik yang hendak Ia tuturkan.
PalemahanSebagai Frame Kuratorial ; Memaknai Kembali Interaksi Manusia Dengan Alam Dalam Karya Seni Rupa.
Persoalan alam dan ekologis memang tengah menjadi isu yang menglobal karna dampak dari kerusakan lingkungan itu sendiri dirasakan secara menglobal oleh warga dunia saat ini, dari bangku seminar akademik sampai warung kopi persoalan ekologi adalah topik yang kerap diperbincangkan. Berbagai individu maupun komunitas hinga institusi, seperti para ilmuwan, pemerintah, aktivis , seniman, maupun berbagai elemen masyarakatlainya tentu saja telah berupaya dalam porsi dan kapasitasnya masing masing dalam menyuarakan dan membangun kesadaran bersama dalam menyikapi kondisi lingkungan bumi saat ini.
Karya seni rupa sebagai bagian dari buah peradaban manusia juga kerap hadir menjadi media para perupa untuk menyuarakan tentang isu isu ekologis dan alam tersebut. Secara ideal tentu saja ada visi soal penyadaran yang diemban oleh pelaku seni ( perupa) dalam horizon harapanya ketika menghadirkan isu isu ekologis ini dalam karya mereka. Jika menilik kebelakang dalam kitab sejarah hadirnya berbagai gerakan seni rupa , semisal environmental art yang merupakan gerakan seni rupa dimana relasi antara kesenian ( seni rupa) dan isu-isu lingkungan dihadirkan dan disuarakan oleh para seniman. Pola gerakan environmental art ini tidak hanya berhenti pada medan sosial maupun intstitusi dalam art world melainkan berusaha cair hadir menyapa publik yang lebih luas, agar isu isu lingkungan yang disuarakan diharapkan mampu mempersuasi publik secara langsung.
Oka Astawa sebagai perupa muda yang berada dalam dua “ruang” kreatifitasnya yakni kolaboratif dan personal, ketika berhadapan dengan tema alam dan ekologi yang menjadi inspirasinya selama ini cenderung memakai dua pendekatan pula dalam menghadirkan dan mengemas gagasannya tentang ekologi ataupun alam dalam karya dan aktifitas berkeseniannya. Dalam “ruang kolaboratifnya” cara – cara pendekatan langsung kepada publik untuk menyampaikan isu-isu seputar kesadaran ekologis , lewat aksi aksi nyata sesuai kapasitas dirinya tentu saja telah coba Ia lakukan dalam beberapa project. Misalnya dengan aksi bersih bersih pantai di sekitar tempat tinggalnya di Pangkung Tibah dengan diisi pula dengan pembuatan karya instalasi manusia sampah.Atupun dengan membuat t – shirt dengan konten isu isu ekologis di Bali yang disertai dengan pemberian bibit pohon pada pihak yang membeli produk t –shirt nya tersebut.
Sedangkan dalam “ruang” personalnya, Oka Astawa mencoba menghadirkan isu – isu ekologis atau alam tersebut kedalam representasi visual karya – karya seni lukisnya. Bentuk presentasi yang Ia pilih adalah dengan berpameran di gallery seni sebagai bagian dari medan sosial seni itu sendiri. Dalam konteks ini terbaca ihwal kesadaran Oka dalam memposisikan diri sebagai perupa muda yang hadir dan memperjuangkan eksistensi kesenimanya dalam ranah medan sosial seni rupa. Pilihan strategi dan model presentasi berupa pameran, ditulis oleh penulis/ kurator seni, tetap berada dalam institusi medan sosial seni rupa dalam hal ini Santrian Gallery sebagai salah satu ruang seni di Bali yang intens menghadirkan peristiwa peristiwa kesenian khusunya seni rupa ini, dapat terbaca sebagai pilihan presentasi yang tetap berada dalam arus medan sosial seni itu sendiri. Sehingga pilihan ini merupakan sebentuk strategi presentasi yang didalamnya juga terdapat berbagai mekanisme , pola dan strategi artistik ihwal kehadiran seniman sebagai sang subjek yang mempresentasikan gagasan dan karya Oka dalam medan sosial seni itu sendiri. .
Gagasan, opini, dan sudut pandang Oka tentang persoalan ekologi dan alam yang terepresentasikan dalam karya karya yang tergantung di dinding ruang pameran Santrian Gallery ini menunjukan bagaimana Oka sebagai perupa membaca dan menghayati sebuah topik besar seputar kondisi ekologis yang sedang dighadapi oleh manusia sebagai penghuni rumah besar bernama bumi. Tema besar seputar kondisi ekologi dan alam coba oka kerucutkan dengan memfokuskan persoalan alam maupun ekologi dalam konteks dirinya sebagai perupa Bali.
Alam dan isu isu lingkungan merupakan satu landasan yang menjadi pijakan dalam proses kreatif Oka selama ini. Terlebih ketika Ia kembali dari Jogya ke Bali. Ia melihat bagaimana terjadi perubahan kondisi alam dan lingkungan yang tengah melanda Bali akhir akhir ini, yang tentu saja juga menjadi gejala global di belahan dunia ini. Alih fungsi lahan, ketidakpedulian dalam menjaga kebersihan lingkungan, eksploitasi alam secara berlebih untuk kepentingan pembuatan infrastuktur fisik atas nama pembangunan mengusik naluri estetik Oka. Sebagai orang Bali Oka mencoba merenungkan kembali apa yang tengah terjadi. Filsafat dan nilai nilai kultural Bali adalah jalan Oka untuk berefleksi dengan situasi yang mengusiknya tersebut. Berbagai kearifan lokal dalam memuliakan alam dan lingkungan coba Oka gali dan renungi kembali.Tradisi Tumpek Wariga misalnya adalah kearifan local yang tak hanya cukup dimaknai sebagai ritual dan aktivitas budaya semata namun lebih jauh dari itu adalah sebuah rangkaian nilai nilai yang mencoba mengajarkan kita untuk memperlakukan tumbuh tumbuhan yang merepresentasikan alam secara bijaksana.
Selain Tumpek Wariga sebagai sebuah tradisi ritual menghormati tumbuh tumbuhan, di Bali juga dikenal konsep Tri Hita Karana.Yang artinya adalah tiga hal yang menyebabkan kebahagiaan. Yakni Parahyangan (yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan), Pawongan (yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya) serta Palemahan ( yang mengatur hubungan manusia dengan alamnya). Palemahan ini kemudian terimplementasikan dalam berbagai kearifan lokal seperti pelaksanaan ritual Tumpek Wariga yang tersebut diatas, ataupun ritual – ritual yang lain serta yang terpenting adalah sikap, tata cara, dan kebijaksanaan – kebijaksaan yang diwariskan dalam perilaku msyarakat Bali di masa lalu hingga kini. Lihat misalnya bagaimana kearifan masyarakat Bali di masa lalu dalam sistem tata kelola air sehingga melahirkan sistem Subak.Atau yang terlihat sangat sederhana bagaimana perilaku keseharian masyarakat Bali yang kemudian terwarisi sampai saat ini dan menjadi sebentuk keyakinan bahwa setiap habis menebang sebatang pohon maka wajib menanam satu batang pohon lagi sebagai pengganti pohon yang ditebang. Dan masih banyak lagi kearifan – kearifan lokal masyarakat Bali yang terbungkus dalam perilaku keseharian maupun ritual yang menyiratkan bagaimana interaksi manusia dengan alam. Sesuatu yang sunguh sangat kontekstual dalam ruang dan waktu. Nilai – nilai tersebut jika dibaca dari sudut pandang psikologi analaitik Jung adalah sebentuk arketip yang bisa menjadi nilai dasar yang menggerakkkan setiap aktifitas masyarakat Bali, termasuk tentu saja adalah para seniman Bali.
Berkaca dari hal tersebut Oka Astawa tertarik untuk menjadikan Palemahan, sebagai sebuah frame yang membingkai peristiwa pamerannya kali ini. Frame kuratorial ini mencoba merepresentasikan bagaimana Oka membaca tema seputar alam dan isu isu ekologis dalam karyanya dari perspektif dirinya sebagai orang Bali. Dalam karya – karyanya tentu saja nilai – nilai lokal tersebut tidak ditampilkan secara banal dalam bentuk visual. Kelokalan atau ke-bali-an pada proses kreatif Oka berada sebagai bagasi pengetahuan, sebagai stimulasi yang memantik proses kreatifnya dalam menghadirkan karya – karya lukisannya.
Menilik karya – karya lukisannya terbaca bagaimana Oka melakukan artikulasi terhadap tema yang terkait dengan persoalan alam dan isu ekologi kini.Persoalan alih funsi lahan dari agraris ke industri misalnya coba ia representasikan dalam karya yang berjudul “Petani”. Dalam karya terlihat abstraksi figur dalam gestur berdiri termangu sembari memegang cangkul, adanya abstraksi objek cangkul pada karya tersebut memperlihatkan bahwa sosok tersebut adalah seorang petani.Sosoknya kini tersendiri, menyepi di riuhnya industri, mencoba bertahan di tengah himpitan keadaan yang tak menguntungkan.
Berbagai perubahan sosial dan tatanan ekologis di Bali, menurut Oka adalah dampak dari berbagai kepentingan dari berbagai pihak terhadap Bali.Pariwisata yang sudah kadung menjadi branding Bali, secara ekonomi tentu saja sangat potensial untuk dikembangkan.Namun tak jarang niat untuk mengembangkan tersebut terpeleset menjadi niat untuk menguasai dan mengeksploitasi alam dan budayanya secara berlebih. Tak ayal Bali kemudian jadi ajang perebutan kepentingan para pemodal besar misalnya yang ingin “menguasai” dan mengeksploitasi alam dan budaya Bali secara berlebih hanya untuk kepentingan pribadinya. Narasi inilah yang Oka hadirkan pada karya yang berjudul “Tarik Ulur”, berupa penggambaran dua figure yang sedang bermain tarik tambang dimana Bali yang secara banal digambarkan oleh Oka sebagai gambar pulau Bali ada diantara jeratan tali yang sedang dimainkan oleh dua figur yang abstraktif tersebut.
Kita semua rasanya bersepakat bahwa penghijauan adalah sebuah upaya untuk “investasi” ekologisdi masa yang akan datang. Begitu pula dengan Oka , dalam karya yang berjudul “Menjaga Keseimbangan” dan “Tak Ada Tempat Berteduh” terlihat Oka ingin bertutur soal pentingnya aktivitas penghijauan demi menjaga kelestarian alam. Dalam “Menjaga Keseimbangan” Oka merepresentasikan bagaimana pentingnya penghijauan ditengah kondisi alam yang semakin mengkawatirkan. Aktivitas penghijauan bagi Oka adalah salah satu cara yang dapat dilakukan semua orang, sebagai sebuah kesadaran untuk menjaga keseimbangan kondisi ekologis. Sedangkan dalam karya yang berjudul “Tak Ada Tempat Berteduh” adalah gambaran imajinasi Oka yang membayangkan betapa gerah, kering, dan tandusnya bumi ini kelak jika semua pohon sudah habis ditebang dan tak ada usaha untuk melakukan penghijauan sejak dini.
Kemarahan, dan kekecewaan Oka melihat tingkah polah pihak-pihak yang semena mena mengeksploitasi alam secara berlebih untuk kepentingan pribadinya terepresentasikan pula dalam karya lukisannya.Namun karya tersebut cukup sublim dalam menyajikan kemarahan, sehingga bukan sebuah teriakan ataupun ungkapan-ungkapan heroik yang terlihat adalah gestur yang sesekali ditingkahi oleh simbol simbol tertentu.Lihat misalnya dalam karya yang berjudul “Kepala Panas” yang memperlihatkan bagaimana sosok figur yang sedang memegangi kepalanya. Atau karya yang berjudul “ Derita dan Amarah” yang menampilkan gestur figur yang berjongkok namun tidak menunjukkan keterpurukan yang pasrah tapi sebuah semangat , sebuah luapan kemarahan yang meletup, yang dipresentasikan dengan simbol kobaran api di tangan.
“Ruang “ Kolaboratif di Pameran Palemahan
Sesuai dengan karakteristik proses kreatif Oka Astawa yang kerap hadir dalam “ruang” personal dan “ruang” kolaboratifnya, dalam pameran tunggalnya kali ini pun dua kecenderungan tersebut terlihat. “Ruang” personal Oka sudah dibahas dalam tulisan sebelumnya khususnya tentang karya – karya lukisannya. Sekarang mari kita coba telisik “ruang “ kolaboratif Oka dalam pameran tunggalnya kali ini.
Adalah komunitas Gamasera (Gabungan Mahasiswa Seni Rupa Undiksha Singaraja) sebuah komunitas mahasiswa seni rupa yang berbasis di Undiksha Singaraja. Komunitas ini terlibat dalam kerja kolaboratif bersama Oka Astawa khususnya dalam merespon project EcoKO berupa media propaganda isu isu ekologis dengan medium clothingan. Proses kolaborasi ini diawali dengan presentasi yang dilakukan Oka Astawa di kampus FBS Undiksha Singaraja. Dihadapan para mahasiswa Jurusan Pendidikan Seni Rupa Undiksha Singaraja Oka memaparkan proses kreatifnya selama ini beserta project – project kolaboratif yang pernah ia gulirkan bersama beberapa pihak (komunitas) sebelumnya. Selain itu proses presentasi juga menjelaskan tentang project EcoKO yang tengah digulirkannya sebagai bagian dari event pameran tunggalnya di Santrian Gallery.
Dalam proses presentasi tersebut Oka mengajak dan menawarkan kemungkinan kolaborasi bersama para mahasiswa Jurusan Pendidikan Seni Rupa yang tergabung dalam komunitas Gamasera untuk merespon project EcoKO yang merupakan bagaian dari event pameran tunggal yang tengah dipersiapkannya. Komunitas Gamasera dalam proses presentasi tersebut sangat menyambut dengan antusias tawaran kolaborasi tersebut mereka lalu bersepakat akan membuat karya desain clothingan yang akan dipamerkan pada saat pameran tunggal Oka Astawa di Santrian Galery. Ada sekitar dua karya desain yang akan dipamerkan bersama dengan karya – karya desain dari EcoKO sendiri.
Selain melakukan proses presentasi dan penjajagan kemungkinan kolaborasi dengan komunitas Gamasera, Oka pada bulan Juni 2016 tepatnya pada hari Bumi tanggal 5 Juni juga menggelar event pameran karya desain EcoKO, Tshirt, dan satu karya lukisan.Pameran tersebut bertajuk EcoKO Green Art Project.Pameran yang berlangsung di Lingkara Foto Gallery tersebut juga di isi dengan acara diskusi atau lebih tepatnya sharing antara Oka Astawa selaku perupa dengan berbagai lembaga yang memilki fokus pada isu isu lingkungan seperti Manik Bumi, CI, dan lain sebagainya. Dalam proses diskusi tersebut terjalin dialog yang cair antara Oka dan berbagai lembaga tersebut dan terjadi proses sharing atau berbagi informasi tentang aktivitas – aktivitas yang dilakukan masing masing lembaga serta kemungkinan – kemungkinan kerja kolaboratif yang mungkin saja dapat dilakukan di kemudian hari.
Demikianlah sekelumit pembacaan saya terhadap proses kreatif dan karya – karya Oka Astawa yang dalam pameran ini terbingkai dalam satu frame kuratorial bertajuk “Palemahan”yakni sebuah upaya Oka untuk menyuarakan isu isu ekologis yang bersifat global namun dari sudut pandang dirinya sebagai orang Bali. Dalam mengartikulasikan tema seputar alam dan isu isu ekologis yang menjadi pijakan konsep kekaryaanya Oka berupaya bergerak secara ulak alik.Antara aktivitas personalnya sebagai seniman dalam mengkontruksi representasai (karya) sebagai sebentuk ungkapan dengan upaya untuk hadir secara lebih cair melibatkan berbagai pihak termasuk masyarakat (pemuda) di lingkungan sekitarnya untuk melakukan aksi aksi nyata yang tentu saja sesuai kapasitas dirinya sebagai perupa muda.Kesenimanan Oka ada pada irisan antara pencarian estetik personal dengan kerja kerja kolaboratif. Keduanya tentu saja masih menjanjikan berbagai kemungkinan.()
Antara Tampaksiring – Batubulan Agustus 2016
