OKA ART PROJECT
Oka Art Project
“Ruang Gerak dan Presentasi Proses Kreatif”
Gede Oka Astawa
Oka Art Project (OAP) adalah sebuah gerakan seni berbasis proyek dimulai sejak tahun 2011 di Yogyakarta, baru pada tahun 2014 bangunan Oka Art Project didirikan di daerah Tanah Lot, Tabanan, Bali. Ruang Oka Art Project Bali merupakan suatu ruang seni yang digagas atas prakarsa I Gede Oka Astawa sebagai ruang studio yang mewadahi proses penciptaan dan presentasi proses kreatif, yang akan dan telah saya jalani, serta sebagai tempat berkarya seni rupa, berorganisasi, bernegosiasi dan pertemuan untuk mewujudkan ide-ide berkesenian dengan pelaku seni yang lebih luas. Semua kegiatan yang dilakukan Oka Art Project, guna mempromosikan dan mengkomunikasikan kegiatan dan berbagai macam kecenderungan yang terjadi dalam proses kesenimanan I Gede Oka Astawa. Pada awalnya diciptakan sebagai sebuah wadah penyampaian gagasan pribadi I Gede Oka Astawa. Seiring berkembangnya kebutuhan dan wacana seni rupa, Oka Art Project membuka diri untuk berkerjasama dengan pelaku seni secara perorangan maupun organisasi-organisasi seni dalam merancang dan menyelenggarakan berbagai macam kegiatan kesenian.
I Gede Oka Astawa menyadari bahwa praktik studio bisa melebar, tidak hanya tempat berkarya seni tetapi sebagai kantor, tempat edukasi, perpustakaan dan wadah untuk berkolaborasi. Untuk memantapkan itu, Ruang Oka Art Project Bali hadir bernegosiasi dengan publik melalui cara yang heterogen, inovatif dan dialog yang bermakna.
Narasi : Rekam Proses demi proses
Fase perjalanan tematik setiap gagasan dikemas dalam kerangka motif yang terstruktur. Bisa dilihat bagaimana alur pemikiran saya dari project tahun 2011 sampai dengan 2016, dari persoalan-persoalan individu kepada subject tema yang lebih luas, beragam aktivitas saya lakukan berupa kajian kecil, wawancara dan sharing dengan para perupa, disambung dengan kerja kerja kolaborasi untuk membangun komunikasi dan sharing pengalaman kemudian diwujudkan dalam bentuk praktek, karya, dan wacana yang dibangun.
-
Kegelisahan Asahan Sikap
Pada tahun 2011 Oka Art Project (OAP) dimulai dengan pembuatan stensilan dan mural diberbagai sudut kota Yogyakata, proyek seni ini melibatkan berbagai komunitas seni dan perupa-perupa muda yang masih menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Logo stensil Menjawab Kegelisahan ibarat sebuah refleksi, tajuk ini menjadi satu bentuk kritik diri atas prinsip, idealisme, serta praktek kesenian saya sendiri. Representasi dari sebuah proses kreatif yang masih terus berjalan, sebagai satu “jawaban kegelisahan” yang menjadi kunci dari ribuan pertanyaan yang akan terus bermunculan.


Proyek stensilan dan mural
Masih pada tahun 2011 Oka Art Project (OAP) bekerjasama dengan komunitas seni seperti komunitas Tangan Reget (Komunitas dari jurusan Grafis), Titik Lenyap (Komunitas dari jurusan Kriya), dan Tempat Kencink (Komunitas dari jurusan DKV) untuk membuat karya kolaborasi dalam pameran tunggal “Menjawab Kegelisahan” Oka Astawa.
Kegelisahan yang muncul dari berbagai pertanyaan dalam diri, haruslah segera dikeluarkan dan disampaikan kepada orang-orang disekitar. Bertanya bukan berarti kita tidak mempunyai pendirian, melainkan bertanya untuk kita jawab dengan mimpi dan aksi. Sebesar apapun mimpi tidak berarti apa-apa jika tidak dilanjutkan dengan dengan aksi, sehebat apapun aksi kurang bermanfaat jika tidak diiringi berbagi. Berbagi dalam arti menunjukan rekaman potret perjalanan dan proses kreatif yang saya lakukan untuk dipresentasikan ke publik yang lebih luas.
Kecakapan sosial (social skill), penting untuk dimiliki setiap insan seni rupa. Sebab, dengan kecakapan ini, kita mampu mempresentasikan proses kreatif yang telah dijalani kepada publik seni rupa yang lebih luas, sehingga tercipta sirkulasi intelektual (wacana dan estetika) di dalamnya. Bagaimana para seniman muda mampu memposisikan diri dalam jejaring sosial seni rupanya secara optimal, melakukan proses intermediasi dalam medan yang lebih komplek, bersinergi membangun iklim kesenian yang kondusif dan progresif.
-
Gerak komunal membangun “ruang berbincang”
Pada tahun 2012 Oka Art Project (OAP) berkerjasama dengan komunitas Tempat Kencink membuat pameran kolaborasi “Hydro Pirates” di Galang Kangin Art Space Bali yang diikuti oleh anggota komunitas Tempat Kencink dan perupa muda Bali. Masih ditahun 2012 Oka Art Project berkerjasama dengan kurator muda Hendra Himawan mendirikan forum diskusi WASH (Weekly Art Sharing) Yogyakarta, WASH adalah satu forum diskusi, ruang presentasi proses kreatif perupa muda Yogyakarta. Kegiatan yang dilakukan oleh WASH adalah pameran mandiri, presentasi karya dan diskusi, dengan mengambil tempat di studio-studio seniman, ruang-ruang kumpul komunitas, kampus-kampus sebagai ruang gerak, untuk mendekatkan proses penciptaan karya seni dengan audiens dan publik seni yang lebih luas. WASH berorientasi kepada pendokumentasian proses kreatif, mengembangkan ruang-ruang diskusi dan proses penciptaan karya baru, serta pembangunan jaringan kerja kesenian atara perupa muda Yogyakarta.


Bersama teman-teman WASH
-
Jalan meraba ideologi
Ditahun 2014 Oka Art Project dengan sangat antusias kembali meluncurkan inisiatif baru yaitu I+DIALOG+I, sebuah proyek seni yang digagas dalam rangka pameran Tunggal saya pada bulan maret 2014 di Taman Budaya Yogyakarta. “I+DIALOG+I” tajuk ini mencoba menghadirkan latar belakang identitas saya sebagai anak laki-laki Bali dengan tradisi dan budaya lokal untuk dipersentasikan ke publik seni rupa yang lebih luas. Ada beberapa persoalan yang menjadi dilema dari sitem adat, tradisi, dan kebudayaan Bali yang membuat saya mencoba menghadirkannya kedalam bentuk karya dua dimensi, tiga dimensi dan berupa video yang saya persentasikan dalam sebuah project pameran seni rupa. Saya mencoba membaca dan menyisir tatanan daerah asal, bertanya pada orang tua, tokoh masyarakat dan perupa senior, mencari tahu apa yang harus dilakukan ketika pulang, ini adalah upaya saya untuk mempelajari tentang ‘rumah’ saya. Menengok tradisi, memaknai dan memunculkannya saya kira menjadi satu celah untuk mengetahui atau memposisikan diri pada jejaring seni dimana kita akan berproses.
Adapun acara pendukungnya antara lain:
-Diskusi Seni dan pemutaran video dokumenter wawancara Oka Astawa dengan seniman Made Wianta, Pande Gede Supada, dan Nyoman Erawan di UPT Galery ISI Yogyakarta.
-Diskusi Seni “Jejaring Komunitas” bersama Komunitas Kukomikan, Tangan Reget, Giginyala, dan Perupa Indonesia Timur di Kersan Art Studio Yogyakarta.
-Pameran Instalasi, Open Studio dan performing art kolaborasi dengan komunitas-komunitas seni Yogyakarta.
-Diskusi Seni “Ketika Orang Bali Merantau”, pembicara Entang Wiharso, I Gede Arya Sucitra. S.Sn., M.A. dan I Gede Oka Astawa.
#Pemutara Video Holiday Art Sharing
Pada saat liburan semester pada bulan juli 2013 yang lalu saya berinisiatif untuk berkunjung ke rumah atau studio-studio seniman senior di Bali sekedar sharing pengalaman mereka pada saat masih muda sampai sekarang dan kesempatan untuk bersilahturahmi serta membangun relasi. Dari obrolan tersebut saya banyak mendapatkan motivasi dan inspirasi bagaimana membangun sikap mental berkesenian yang baik.Saya sadar betul bahwa obrolan ini atau informasi yang saya dapatkan dari seniman-seniman senior ini sangat bermanfaat bagi saya dan perupa muda lainnya untuk menempa sikap mental kesenimanan kami perupa muda. Saya berinisiatif untuk mendokumentasikan setiap obrolan kami dalam bentuk video dokumentasi.

Diskusi Seni dan pemutaran video dokumenter Holiday Art Sharing, Galeri kampus ISI Yogyakarta
Pada tanggal 21 Oktober 2013 saya memutarkan video dokumentasi obrolan saya dengan tiga seniman Bali yaitu Made Wianta, Pande Gede Supada, dan Nyoman Erawan di galeri kampus ISI Yogyakarta dengan harapan perupa muda lainnya mendapatkan inspirasi juga dari obrolan kami tersebut. Selain pemutaran video dokumentasi, ada acara diskusi dengan menghadirkan Made Toris Mahendra sebagai pembicara. Ini merupakan sebuah acara dialog untuk menambah pengetahuan dan membangun sikap mental untuk para perupa muda, walaupun sederhana namun memberikan banyak manfaat bagi saya dan temen-temen perupa muda lainnya.
#Kolaborasi Dengan Komunitas-Komunitas Perupa Muda
Saya dilahirkan di dalam lingkungan sosial yang kuat, sebagai bagian dari masyarakat dengan akar tradisi yang ketat dan saya tidak dapat melepaskan diri dari ikatan-ikatan norma yang telah dibebenkan sejak lahir. Dari sejak kecil, pada saat saya masih duduk di Taman Kanak-kanak (TK) saya sudah menjadi bagian kelompok atau organisasi tari dan gambelan Bali serta organisasi kesenian-kesenian lainnya di Desa saya, pada saat beranjak remaja saya jadi pengurus organisasi pemuda dengan kegiatan-kegiatan sosial, kesenian, keagamaan dan olah raga. Jadi saya sudah tidak asing lagi dengan gerak organisasi. Organisai-organisasi kesenian yang saya ikuti itu masih hanya terbatas untuk melestarikan tradisi dan budaya Bali serta menjalin keakraban dan kebersamaan antar generasi muda di lingkungan desa saya.
Pengalaman saya dengan gerak organisasi masa kecil sampai remaja di Bali tentulah belum cukup untuk melatih kepekaan sosial saya terhadap masalah dan fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar, maka melalui Oka Art Project 2014 ini saya kembali untuk melibatkan banyak komunitas berkerja bersama dan berkolaborasi mencipta karya. Hal ini menarik karena diikuti komunitas-komunitas dari lintas jurusan dan lintas kampus.
Saya mencari kemungkinan ideologi berkesenian yang berbeda dari empat komunitas ini, dimana komunitas-komunitas ini berasal dari tiga kampus dan jurusan yang berbeda. Saya rasa ideologi berkesenian mereka juga akan berbeda, komunitas Kukomikan dibentuk atau anggotannya kebanyakan teman-teman dari kampus UNY, komunitas Tangan Reget adalah komunitas teman-teman dari jurusan Grafis ISI Yogyakarta, Giginyala adalah komunitas seni dari jurusan Desain MSD, Sedangkan komunitas Perupa Indonesia Timur adalah awalnya sebuah bagian dari unit kegiatan mahasiswa ISI Yogyakarta. UKM ini sebagai ruang sosialisasi bagi teman-teman yang berasal dari Indonesia bagian timur dari berbagai jurusan yang ada di ISI.
Melalui Project kolaborasi ini publik bisa melihat bagaimana negosiasi-negosiasi gagasan bertemu, serta melihat metode dan mekanisme kerja kreatif saya dengan komunitas-komunitas tersebut.
Kecakapan sosial harus dimiliki oleh para seniman muda, sebab dengan kecakapan ini kita mampu mempresentasikan proses kreatif yang telah kita jalani kepada publik seni rupa yang lebih luas dan agar saya mempunyai kepekaan sosial terhadap lingkungan dan menangkap fenomena kesenian yang menjadi ideologi dari masing-masing komunitas yang saya ajak kerjasama. Untuk menjadi seniman hari ini, kita para seniman muda harus mampu memposisikan diri dalam jejaring sosial seni rupa secara optimal. Saya merasa perlu untuk kolaborasi lagi dengan komunitas-komunitas seni, sebab saya ingin terus melatih sikap untuk terbuka dan sikap untuk mampu berkerjasama dengan orang lain seluas-luasnya. Dengan kolaborasi ini saya berharap menemukan kemungkinan-kemungkinan baru, baik kemampuan teknis, kemampuan konseptual, maupun memperkuat ideologi kesenimanan saya.
#Diskusi Seni “Jejaring Komunitas”
Dalam rangkaian program pameran tunggal saya pada maret 2014, Oka Art Project sangat antusias meluncurkan inisiatif yaitu program sharing komunitas. Diskusi ini akan mengeksplorasi pergaulan antar komunitas perupa-perupa muda Yogyakarta dengan mengajak komunitas-komunitas seni untuk sharing proses kesenian yang sudah maupun yang akan dilakukan oleh masing-masing komunitas kepada publik sebagai proyeksi pada praktik seni para perupa muda serta hubungan jaringan yang ada dan kekuatan komunitas-komunitas seni. Melalui inisiatif ini, saya berharap audiens yang lebih luas akan memiliki kesempatan melihat atau mendengarkan langsung keragaman praktik kreatif yang ada dan cara dimana perupa-perupa muda ini menggunakan ruang komunitas mereka untuk mendefinisikan visi kesenian, membangun komunikasi dan bernegosiasi dengan dunia luar. Saya rasa saat ini sangat minimnya ruang atau acara-acara sharing seperti ini, mempertemukan berbagai komunitas dari kampus yang berbeda. Di sini saya mencoba untuk mewadahi komunitas-komunitas perupa muda untuk berbagi informasi dan pengalaman mereka kepada publik yang lebih luas, selain itu project ini juga untuk membangun komunikasi serta membuka kemungkinan-kemungkinan kerjasama seni antar komunitas perupa muda Yogyakarta.


Diskusi Seni “Jejaring Komunitas”, Kersan Art Studio.
#Pameran Instalasi, Performing Art, Open Studio dan Diskusi
Melalui pameran instalasi, open studio, performing art dan sharing ini publik akan melihat lebih dekat lagi fungsi studio saya, mulai dengan karya-karya yang belum jadi sampai dengan tempat kerja saya yang akan dihadirkan di ruang galeri. Studio seniman bukan hanya sebagai tempat kerja, tetapi juga sebagai tempat untuk negosiasi budaya, tempat untuk bergabung dengan teman untuk mengatur kegiatan seni. Maka oleh karena itu selama pameran berlangsung saya akan tinggal atau melakukan aktivitas seperti hari-hari biasanya di ruang galeri. Di sini publik akan menemukan akar komunitas seni dan mampu melihat praktik kreatif saya secara keseluruhan. Biasanya open studio dilakukan memang di studio pribadi seniman, tapi dalam pameran instalasi ini saya senggaja memindahkan studio saya ke ruang publik yaitu galeri, untuk membangun keterbukaan komunikasi saya dengan penikmat seni atau publik luas.

Suwasana Pameran Instalasi, Performing Art dan Open Studio di Kersan Art Studio Yogyakarta

Diskusi Seni “Ketika Orang Bali Merantau”, pembicara Entang Wiharso, I Gede Arya Sucitra. S.Sn., M.A. dan I Gede Oka Astawa.
-
Oka Ke(m)Bali : Momentum Redefinisi
Untuk meresmikan ruang Oka Art Project Bali pada bulan juni 2014 dan dalam rangka pameran tunggal saya “(Un)disposable Nature” pada program Artist In Residence Tembi Rumah Budaya Yogyakarta pada bulan April 2015 , Oka Art Project dengan sangat antusias meluncurkan inisiatif baru yang bertajuk “Oka Ke(m)Bali” sebuah proyek seni yang digagas untuk membaca dan memahami berbagai macam problematika kehidupan sosial dan alam di Bali, serta ikut berpartisipasi dalam membangun medan sosial seni rupa di Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya. Diawali dengan menggagas “Bali Young Art Project” yang diikuti oleh beberapa perupa muda Bali yang masih bersetatus mahasiswa ISI Denpasar untuk ikut terlibat dalam poyek pertama ini. Bali Young Art Project adalah sebuah organisasi berbasis proyek berdiri pada juli 2014, yang memfokuskan diri pada membangun jaringan komunikasi kreatif antara seniman muda dan publik seninya, serta sebagai tempat berkarya, berorganisasi, bernegosiasi dan pertemuan antar perupa muda untuk mewujudkan ide-ide kesenian baik secara kelompok maupun perorangan. Forum ini bisa juga sebagai sebuah ruang diskusi yang digagas sebagai tempat presentasi proses kreatif perupa muda Bali. Bali Young Art Project merupakan bagian dari forum WASH (Weekly Art Sharing) Yogyakarta, dimana konsep dari forum ini hampir sama yaitu sebagai ruang sharing, ruang kolaborasi dan ruang untuk menggagas proyek-proyek seni dari para perupa muda Bali. Untuk Bali Young Art Project diikuti oleh 7 perupa muda Bali yaitu Putu Septiana, Gayus Adiniel Pratama, Pande Nyoman Budiawan, Gede Dodik Suryaersa, Luh Made Dwi Anita Sari, Dewa Bayu Pramana, Ketut Sedana.
Program selanjutnya dari project “Oka Ke(m)Bali” antara lain:
– Open Studio ”Ke(m)Bali Hijau”
-“Belajar Menggambar Bersama Anak-anak”
– Pemasangan Karya Bendera “Ke(m)Bali Hijau”
– Menanam pohon Project “Ke(m)Bali Hijau” pada hari Tumpek Wariga
-“Menanam Hijau” Project Kolaborasi I Gede Oka Astawa dengan I Wayan Sudarna Putra
#Open Studio Ke(m)Bali Hijau
Dalam menanggapi problematika lingkungan Khususnya Bali, Oka Art Project 2014 sangat antusias kembali meluncurkan program “Ke[m]Bali Hijau”, Proyek seni ini merupakan sebuah overview mengenai perubahan sosial yang terjadi sebagai konsekuensi dari proses industrialisasi dalam kehidupan masyarakat di Negara sedang berkembang. Yang hendak disajikan bukan hanya deskripsi tentang manfaat industrialisasi dalam memacu pertumbuhan ekonomi, dan juga bukan sekedar proyek seni teoritis tentang kaitan antara investasi, perkembangan teknologi dan peningkatan sumber daya manusia dalam proses industrialisasi itu sendiri. Lebih dari itu, proyek seni ini merupakan sebuah telaah kritis tentang masalah-masalah krusial yang berkembang dalam masyarakat sebagai konsekuensi dari proses industrialisasi, terutama yang secara riil dihadapi oleh para pengambil keputusan dan para praktisi.
Kondisi lingkungan dewasa ini ditengarai semakin mencemaskan. Di banyak tempat, tanah semakin tidak produktif, bahkan sebagian tidak dapat ditanami lagi. Air semakin tercemar dan tidak layak diminum. Udara pun semakin terpolusi sehingga menyesakkan nafas. Runyamnya lagi, banyak hutan menjadi gundul akibat dari lemahnya kontrol dalam proses penebangan dan upaya reboisasi yang lamban.
Sedikitnya ada dua faktor penting yang berkaitan dengan kerusakan lingkungan. Faktor yang pertama adalah pesatnya peningkatan jumlah penduduk. Hampir di semua belahan bumi ini, jumlah penduduk semakin padat. Kepadatan itu menambah beban yang amat berat bagi lingkungan karena daya dukung sumber alam ternyata semakin tidak seimbang dengan lajunya tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup. Lingkungan tidak pernah henti dieksplorasi dengan berbagai macam cara dan argumentasi. Faktor lain yang juga merisaukan bagi usaha menjaga kelestarian lingkungan adalah perkembangan industri. Perkembangan industri memang telah terbukti mampu menjawab persoalan kemiskinan dan kesenjangan sosial, tetapi ternyata harus dibayar amat mahal karena memiliki dampak negatif terhadap kelestarian lingkungan. Hasil sejumblah studi Negara-negara industri memperlihatkan bahwa bersamaan dengan pesatnya pertumbuhan industri telah terjadi erosi pada tanah pertanian serta penggeraman pada lahan yang produktif. Di mana-mana, termasuk di Negara sedang berkembang, seperti Indonesia, proses industrialisasi melibatkan suatu transformasi dari masyarakat yang secara ekonomi berciri agraris kearah manufacturing. Proses semacam itu mendorong terjadinya perubahan sosial dan meningkatnya diferensiasi struktur sosial. Apabila kecenderungan semacam itu dibiarkan, bukan mustahil kehidupan manusia kelak menjadi lebih sengsara. Kehidupan anak dan cucu kita akan sangat menderita karena alam tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka. Maka dari itu, untuk mengantisipasinya, diperlukan suatu peningkatan rasionalisasi. Peningkatan rasionalisasi ini menpunyai pengaruh balik pada perubahan sosial dan diferensiasi struktural, dan demikianlah siklus tersebut terus berlanjut menandai proses menuju pandangan hidup masyarakat industrial.

Open Studio ”Ke(m)Bali Hijau”
#Belajar menggambar dan mewarnai bersama anak-anak SD dengan tema Alam dan lingkungan.
Setelah mengadakan Open Studio, Oka Art Project memberikan pendidikan seni gratis untuk anak-anak yang masih duduk dibangku sekolah dasar (SD). Pendidikan seni merupakan sarana untuk pengembangan kreativitas anak. Pelaksanaan pendidikan seni dapat dilakukan melalui kegiatan permainan. Tujuan pendidikan seni bukan untuk membina anak-anak menjadi seniman, melainkan untuk mendidik anak-anak menjadi kreatif. Seni merupakan aktivitas permainan. Melalui permainan, kita dapat mendidik anak dan membina kreativitasnya sedini mungkin. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seni dapat digunakan sebagai alat pendidikan. Melalui permainan dalam pendidikan seni anak memiliki keleluasaan untuk mengembangkan kreativitasnya.
Dalam program Oka Art Project “Belajar Menggambar Bersama Anak-anak”, ini merupakan program pendidikan seni bagian dari proyek seni “Oka Ke(m)Bali” dimana tujuannya adalah memberikan pendidikan seni secara gratis untuk anak-anak, program ini merupakan sarana untuk pengembangan kreativitas anak dan mencoba memahami apa yang menjadi pikiran anak-anak dan apa yang mereka rasakan dalam kehidupan mereka. Kecenderungan karya-karya mereka tentang alam lingkungan, permainan layang-layang, dan budaya bali yang sering mereka saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Ada juga yang menggambar ekspresi wajah serta prilakunya. Walaupun terkesan karya-karya mereka belum selesai, tetapi goresan dari tangan mereka sangat lepas dan tanpa beban, setiap anak menikmati coretan demi coretan mereka dalam selembar kertas bahkan mereka ketagihan dengan aktivitas menggambar ini.

Belajar menggambar dan mewarnai bersama anak-anak SD
#Pemasangan karya bendera “Ke(m)Bali Hijau” di berbagai tempat di Bali
Program selanjutnya dari “Oka Ke(m)Bali” adalah pemasangan karya bendera “Ke(m)Bali Hijau” diberbagai daerah di Bali, yang mengambil tempat di pinggir-pinggir jalan, persawahan, tepi pantai dan daerah-daerah wisata. Awalnya bendera digunakan untuk membantu kordinasi militer dimedan perang dan bendera sejak berevolusi menjadi alat umum untuk sinyal dasar dan identifikasi, terutama di lingkungan dimana komunikasi juga menantang. Bendera berfungsi sebagai ibarat kebangsaan, sebagai tanda kehormatan, dan ibarat kelompok. Bendera juga digunakan dalam peras, iklan, atau untuk tujuan hias lain.
Simbol bendera pada Art Project “Ke(m)Bali Hijau” merupakan sebuah refleksi, tajuk ini menjadi satu bentuk kritik diri atas prinsip, idealisme, serta praktek prilaku diri dalam memprilakukan alam dan lingkungan Bali. Karya bendera representasi dari sebuah proses kreatif upaya untuk mengkampanyekan perduli lingkungan hidup atau menjaga alam Bali agar tetap hijau dan lestari.

Pemasangan karya bendera “Ke(m)Bali Hijau”
#Menanam pohon Project “Ke(m)Bali Hijau”, pada hari Tumpek Wariga.
Tumpek Wariga sebagai Hari persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai sangkara, Dewa penguasa tumbuh-tumbuhan yang dikongkritkan melalui mengupacarai pepohonan. Menurut tradisi Susastra Bali yang menyebabkan tumbuh-tumbuan hidup dan memberikan hasil kepada manusia adalah Hyang Sangkara, itu sebabnya manusia wajib menyatakan rasa syukur dan penghormatan kepada Hyang Sangkara mesti dilakukan manusia dengan mengasihi segala jenis tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan itu yang kemudian menjadi sumber kehidupan utama bagi umat manusia. Dalam ajaran agama Hindu dikenal konsep Tri Chandra yaitu tiga unsur yang menjadi penyebab hidup dan kehidupan. Seperti Vata (udara), Apah (air), serta Ausad (tumbuh-tumbuhan). Tanpa ketiga unsur itu, kehidupan tidak bisa berlangsung karena itu, mengupacarai pohon di Tumpek Wariga merupakan laku simbolis manusia Bali dalam menyatakan rasa syukur kepada tuhan atas anugrah kehidupan bagi segala yang tumbuh. Tumpek Wariga merupakan momentum kasih dan sayang kepada alam itu khususnya tumbuh-tumbuhan. Betapa besarnya peranan tumbuh-tumbuhan dalam memberi hidup umat manusia. Hampir seluruh kebutuhan hidup umat manusia bersumber dari tumbuh-tumbuhan. Mulai dari pangan, sandang hingga papan.

Penanaman Pohon pada hari Tumpek Wariga
# “Menanam Hijau” Project Kolaborasi I Gede Oka Astawa dengan I Wayan Sudarna Putra
Kondisi lingkungan dewasa ini ditengarai semakin mencemaskan. Di banyak tempat, tanah semakin tidak produktif, bahkan sebagian tidak dapat ditanami lagi. Air semakin tercemar dan tidak layak diminum. Udara pun semakin terpolusi sehingga menyesakkan nafas. Runyamnya lagi, banyak hutan menjadi gundul akibat dari lemahnya kontrol dalam proses penebangan dan upaya reboisasi yang lamban.
Sedikitnya ada dua faktor penting yang berkaitan dengan kerusakan lingkungan. Faktor yang pertama adalah pesatnya peningkatan jumlah penduduk. Hampir di semua belahan bumi ini, jumlah penduduk semakin padat. Kepadatan itu menambah beban yang amat berat bagi lingkungan karena daya dukung sumber alam ternyata semakin tidak seimbang dengan lajunya tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup. Lingkungan tidak pernah henti dieksplorasi dengan berbagai macam cara dan argumentasi. Faktor lain yang juga merisaukan bagi usaha menjaga kelestarian lingkungan adalah perkembangan industri. Perkembangan industri memang telah terbukti mampu menjawab persoalan kemiskinan dan kesenjangan sosial, tetapi ternyata harus dibayar amat mahal karena memiliki dampak negatif terhadap kelestarian lingkungan.
Project Kolaborasi “Menanam Hijau” ini dilatarbelakangi oleh kondisi bumi kita yang kerap dilanda bencana banjir, tanah longsor, kekeringan dan bahkan suhu bumi yang semakin panas (global warming), yang dapat berakibat buruk hingga nantinya akan mengancam kelangsungan mahkluk hidup di bumi ini. Karya ini mengandung pesan atau mengajak kita semua untuk menumbuhkan kesadaran menanam dan dengan pemahaman yang sangat sederhana, bahwa lewat penanaman pohon, secara tidak langsung kita akan mendapatkan efek positif seperti tambahan oksigen di bumi, kesejukan, sebagai bahan makanan, untuk obat-obatan, material bangunan dan banyak lagi yang lainnya serta yang terpenting bahwa lewat penanaman pohon kita telah melakukan tambahan aktivitas yakni berinvestasi tentang air untuk kelangsungan hidup di masa yang akan datang.
Secara visual, project seni ini kami visualisasikan dengan menanam bibit pohon dan melengkapinya dengan karya tiga dimensional berbentuk pohon yang tercipta dari anyaman bambo yang dianyam dengan cara yang tidak beraturan hingga membentuk sebuah pohon berukuran cukup besar, kami juga memasukan unsur bendera, ada juga patung manusia yang terbuat dari limbah kayu sebagai bentuk bahasa metafora tentang apa yang ingin kami sampaikan lewat karya ini. Visual pohon dari anyaman bambo ini disamping berfungsi untuk melindungi bibit yang baru ditanam, juga sebagai unsur fisik dalam sebuah karya seni yang menjadi bahasa dalam wilayah kesenian. Sedangkan bibit pohon dalam karya ini menjadi unsur nonfisik (roh/jiwa/sesuatu yang hidup) yang ada di balik visual, yang nantinya akan tumbuh hingga berbunga ataupun berbuah sebagaimana sifat pohon yang nantinya menjadi investor air di bumi ini. Sedangkan bendera merupakan sebuah refleksi, tajuk ini menjadi satu bentuk kritik diri atas prinsip, idealisme, serta praktek prilaku diri dalam memprilakukan alam dan lingkungan. Karya bendera representasi dari sebuah proses kreatif upaya untuk mengkampanyekan perduli lingkungan hidup atau menjaga alam agar tetap hijau dan lestari. Sedangkan figur manusia kayu sebagai simbol bentuk penyadaran ke berbagai elemen masyarakat, hingga tumbuh kesadaran akan pentingnya penghijauan dalam kehidupan ini, walaupun terlihat sangat sederhana dalam bentuk menanam pohon itu merupakan sebuah karma dan yadnya kepada bumi, sebagai timbal balik agar manusia tidak hanya bisa menerima bahkan ada yang sampai merusak apa yang telah diberikan bumi ini kepada kita, tapi berusaha untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada bumi ini.


“Menanam Hijau” Project Kolaborasi I Gede Oka Astawa dengan I Wayan Sudarna Putra
-
Pola Aktivisme : Bergerak bersama masyarakat
Citra popular tentang Bali “tradisional” sebagai “sorga terakhir” telah dilanggengkan dan dieksploitasi oleh sederet pemerintah, baik Belanda maupun Indonesia, dan oleh partai-partai dan para pemimpin politik yang berkepentingan atau menciptakan “tradisi” yang sepenuhnya baru dan lebih sesuai dengan kepentingan pribadi, politik atau kelas mereka. Citra ini digenjot oleh industri pariwisata multijutaan-dollar, yang menemukan skema yang menguntungkan dalam “tradisi” Bali.
Pariwisata budaya dalam konteks Bali diartikan sebagai pengembangan pariwisata yang sedemikian rupa sehingga wisatawan dapat menikmati kebudayaan Bali, seperti menyaksikan tari-tarian Bali, mengunjungi ojek budaya, atau membeli cinderamata khas Bali, tetapi pada saat yang sama juga berasil melakukan konservasi terhadap kebudayaan Bali dari pengaruh pariwisata. Dengan kata lain, pengembangan pariwisata Bali harus mengakomodasi dua sisi yang bertentangan pada saat yang sama, yaitu menggunakan kebudayaan sebagai daya tarik utama untuk mengundang wisatawan, dan pada saat yang sama juga melindungi kebudayaan dari pengaruh pariwisata.
Dalam menanggapi perkembangan industri pariwisata yang semakin mendesak posisi masyarakat dan menimbulkan berbagai dampak sosial yang dikhawatirkan oleh banyak kalangan di Bali, ditahun 2015 Oka Art Project kembali meluncurkan inisiatif baru yaitu ”Mobilitas Tourism”, sebuah proyek seni yang digagas dalam rangka pameran Tunggal Oka Astawa pada bulan Oktober 2015 di Sangkring Art Project.
Adapun acara pendukungnya antara lain:
– Open Studio dengan Membuka warung mini di depan studio.
– Aksi bersih-bersih pantai dan pemasangan karung tempat sampah di pantai Pangkung Tibah, Tanah Lot.
– Pembuatan karya patung “Manusia Nyampah” dari bahan sampah plastik dan sampah kayu yang saya pungut dari pantai.
#Open Studio dan Warung Mini
Dalam program Open Studio Oka Art Project “Mobilitas Tourism” kali ini, saya membuat sebuah program sosialisasi bersama warga sekitar dengan membuka warung mini di depan studio saya di Bali. Warung ini menjadi salahsatu cara saya untuk bersosialisasi dengan warga masyarakat sekitar. Karena salah satu fungsi warung adalah sebagai tempat untuk berdialog antara pengunjung, sebagai tempat pertukaran informasi, serta menjadi tempat untuk sekedar melakukan obrolan ringan sampai obrolan yang lebih serius. Dengan bertemu secara langsung dengan orang-orang yang berada di warung dapat melakukan komunikasi untuk memperkuat hubungan sosial diri kita dengan orang tersebut. Sangat mungkin sekali program ini dapat menjadi setrategi untuk mensosialisasikan atau dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kegiatan berkesenian, karena warung adalah tempat belanja umum yang dikunjungi oleh banyak orang, baik yang tinggal disekitarnya maupun yang tinggal jauh darinya.
Biasanya Studio seniman hanya untuk kebutuhan seniman yang berkerja untuk memproduksi karya seni, namun melalui program ini publik dapat melihat lebih dekat lagi fungsi studio saya, aktifitas atau proses berkarya dan melihat hasil karya-karya saya dan saya bisa berinteraksi langsung dengan warga disekitar, semua itu akan sangat bermanfaat untuk saya dan masyarakat disana untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap aktifitas dan karya seni. Bagaimana antusiasme dialog yang terjadi, interaksi ide dan interaksi praksis antara saya dan masyarakat disana berlangsung. Saya kira ini adalah tawaran yang menarik untuk mendokumentasikan proses kreatif ini secara langsung dan performatif.

Dokumentasi Open Studio dan Warung Mini
#Aksi bersih-bersih pantai dan pemasangan karung tempat sampah di pantai Pangkung Tibah, Tanah Lot.
Setiap diakhir pekan pantai tentu ramai didatangi wisatawan dari berbagai daerah. Biasanya produksi sampah ketika musim liburan sudah pasti meningkat, sehingga hadirnya sampah tidak hanya karena ketidakperdulian masyarakat tapi juga kontribusi pelaku pariwisata untuk kawasan pesisir pantai, dinilai perlu adanya kebijakan yang tegas dengan melibatkan pelaku pariwisata, mulai dari pemilik warung dan mereka yang mencari keuntungan atau penghidupan di pesisir pantai. Namun hal ini perlu kerja sama pemerintah untuk menerapkan aturan bagi masyarakat yang membuang sampah sembarangan di pantai untuk memberi sanksi sehingga masyarakat mulai mengubah pola perilaku mereka. Harapannya para pengunjung pantai sadar dan peduli untuk buang sampah pada tempatnya. Walaupun saya temukan pemerintah daerah belum melengkapi fasilitas tempat sampah yang memadai dilokasi pantai. Perlu kesadaran bersama menjaga kebersihan di pesisir pantai agar wisatawan juga senang akan kebersihan pantai dan juga peduli untuk menjaga kelestarian alam.
Saya prihatin dengan kondisi pantai dan saya mencoba untuk berbuat Sesuatu agar menjadi lebih baik. Caranya melakukan kegiatan memungut sampah setiap minggu dan menempatkan karung sampah di pinggir pantai. Rendahnya kesadaran lingkungan dari para wisatawan berdampak pada banyaknya sampah yang berceceran. “Dengan kegiatan ini, harapannya banyak masyarakat dan anak muda lainnya yang sadar akan kebersihan. Paling tidak dari hal terkecil yaitu tidak membuang sampah sembarangan.”




Dokumentasi Aksi bersih-bersih pantai dan pemasangan karung tempat sampah di pantai
#Karya Patung ”Manusia Nyampah”
Seni tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan bermasyarakat dan alam sekitar dimana sang seniman berkreasi, kesenian sudah sepatutnya membuat kontribusi kongkrit (di)masyarakat. Tak harus muluk-muluk, membangun cita-cita menggerakkan warga kota secara masif, namun, cukup menginisiasi kegiatan bersekala kecil memberi contoh memungut sampah plastik di pantai, menaruh tempat sampah di ruang publik, membuat karya seni dari sampah yang sudah saya kumpulkan dan melatih anak-anak untuk produktif bermain dan belajar di lingkungannya sendiri. Beberapa bulan sebelumnya saya memotivasi masyarakat dan pemuda di Desa Pangkung Tibah, dengan terjun langsung kemasyarakat, menggerakkan, memberikan pengertian bahwa sampah dapat mencemari pantai, terutama sampah plastik, dan saya juga memberikan contoh langsung bahwa sampah-sampah itu bisa diolah menjadi karya seni. Dari sini publik bisa melihat bagaimana saya tak hanya mementingkan karya seni berupa benda fisik yang bisa dipajang, melalui proyek ini saya memberikan semacam promosi penyadaran atau kampanye terhadap lingkungan sekitar pantai Pangkung Tibah yang berada di daerah Tanah Lot, bahwa kita mempunyai tanggung jawab bersama untuk memelihara lingkungan sekitar kita dengan tidak membuang sampah sembarangan.





Dokumentasi Karya Patung ”Manusia Nyampah”
#Pembakaran Karya ”Manusia Nyampah”
Api sebagai simbol pelebur, bertugas melebur segala Sesuatu yang sudah usang dan tidak layak berada di dunia fana lagi sehingga harus dikembalikan kepada asalnya. Dalam prosesi pembakaran karya “Manusia Nyampah” ada harapan yang menyertai kehancurannya yaitu akan ada kelahiran karya dan pristiwa baru yang lebih baik dan bisa bermanfaat serta dapat memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang kelestarian alam dan lingkungan sekitar.
Dalam kehancuran ada tragedi dan dalam kebangkitan ada misteri, keduanya mengandung nilai-nilai keindahan. Upacara ngaben menjadi salahsatu ilustrasi yang tepat, tersirat makna bahwa didalam tragedi pristiwa kematian, dilangsungkan tradisi seremonial. Hal ini menandakan adanya suatu isyarat, orang Bali merayakan ujung pristiwa kematian, karena dipercaya bahwa ujung kematian atau peleburan menandakan adanya kebangkitan.



Dokumentasi Pembakaran Karya ”Manusia Nyampah”
-
Fashion : “Bahasa” visual anak muda
Ditahun 2016 Oka Art Project kembali meluncurkan inisiatif baru yaitu Ecoko Green Art Project adalah sebuah proyek seni dari Oka Art Project yang memfokuskan diri pada praktek penciptaan berupa prodak T-Shirt (Kaos) sebagai sarana penyampaian pesan atau propaganda-propaganda kebudayaan serta perduli lingkungan dikalangan anak muda serta sarana kritik sosial yang terjadi di masyarakat. Ecoko Green Art Project diambil dari kata Eco Art atau seni lingkungan merupakan serangkaian praktik seni yang melingkupi etika keadilan social sebagai bagian dari karya yang dihasilkan baik dalam pengertian isi maupun bentuk atau materialnya (Marianto, 2015 : 226). Eco Art tidak dapat dipisahkan dari Environmental Art. Eco Art dibuat untuk menginspirasikan tumbuhnya kecintaan dan rasa hormat, merangsang terjadinya dialog dan mendorong terjadinya keberlangsungan pengembangan lingkungan alam dan sosial dimana kita tinggal.
Menjamurnya tren Distro dan Clothingan sebagai gaya hidup anak muda di Bali serta kota-kota besar lainnya di Indonesia merupakan sebuah kemajuan kreatifitas anak-anak muda hari ini, banyak Brand-brand besar didominasi oleh kalangan remaja, begitupun sebaliknya semakin banyak publik menggandrungi prodak-prodak distro itu.Industri Clothingan dan Distro ini membuka ruang yang sangat luas bagi kita untuk melakukan gerak kebudayaan melalui gambar dan kata-kata dalam sebuah T-Shirt, maupun melalui dialog antar jaringan pelaku industri ini.
Kemunculan Ecoko Green Art Project terus bergerak menjadi satu kategori tersendiri karena adanya soul serta karakter yang mampu membedakan kami dengan yang lain.Diantaranya, adalah konsep yang jelas dari sisi desain, tidak sekedar menjiplak atau mengambil desain dari luar.Kemudian adanya ekslusivitas dari sisi produksi, dimana setiap desain untuk satu produk dirilis hanya dalam jumblah terbatas.Selain itu dengan Ecoko Green Art Project kami menyampaikan pesan kebudayaan kepada publik melalui desain-desain yang dihadirkan dalam format berseri dengan mengadopsi karakter tokoh-tokoh pewayangan sebagai tema visual dalam setiap desainnya.
Project seni ini juga berupaya mendekatkan aktivitas kesenian kepada masyarakat khususnya anak muda.Diharapkan melalui proyek “Ecoko Green Art Project” ini semakin banyak pelaku industri yang menyelipkan pesan-pesan kebudayaan yang positif dalam prodak-prodaknya sebagai sarana penyadaran terhadap kehidupan masyarakat luas.
#Ecoko Green Project Membangun kesadaran bersama
Kondisi lingkungan dewasa ini ditengarai semakin mencemaskan.Di banyak tempat, tanah semakin tidak produktif, bahkan sebagian tidak dapat ditanami lagi.Air semakin tercemar dan tidak layak diminum.Udara pun semakin terpolusi sehingga menyesakkan nafas. Runyamnya lagi, banyak hutan menjadi gundul akibat dari lemahnya kontrol dalam proses penebangan dan upaya reboisasi yang lamban.
Sedikitnya ada dua faktor penting yang berkaitan dengan kerusakan lingkungan.Faktor yang pertama adalah pesatnya peningkatan jumlah penduduk.Hampir di semua belahan bumi ini, jumlah penduduk semakin padat.Kepadatan itu menambah beban yang amat berat bagi lingkungan karena daya dukung sumber alam ternyata semakin tidak seimbang dengan lajunya tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup. Lingkungan tidak pernah henti dieksplorasi dengan berbagai macam cara dan argumentasi. Faktor lain yang juga merisaukan bagi usaha menjaga kelestarian lingkungan adalah perkembangan industri. Perkembangan industri memang telah terbukti mampu menjawab persoalan kemiskinan dan kesenjangan sosial, tetapi ternyata harus dibayar amat mahal karena memiliki dampak negatif terhadap kelestarian lingkungan.
“Ecoko Green Project” ini dilatarbelakangi oleh kondisi bumi kita yang kerap dilanda bencana banjir, tanah longsor, kekeringan dan bahkan suhu bumi yang semakin panas (global warming), yang dapat berakibat buruk hingga nantinya akan mengancam kelangsungan mahkluk hidup di bumi ini. Gerakan ini mengandung pesan atau mengajak kita semua untuk menumbuhkan kesadaran menanam dan dengan pemahaman yang sangat sederhana, bahwa lewat penanaman pohon, secara tidak langsung kita akan mendapatkan efek positif seperti tambahan oksigen di bumi, kesejukan, sebagai bahan makanan, untuk obat-obatan, material bangunan dan banyak lagi yang lainnya serta yang terpenting bahwa lewat penanaman pohon kita telah melakukan tambahan aktivitas yakni berinvestasi tentang penghijauan untuk kelangsungan hidup di masa yang akan datang, sehingga tumbuh kesadaran akan pentingnya penghijauan dalam kehidupan ini, walaupun terlihat sangat sederhana dalam bentuk menanam pohon itu merupakan sebuah karma dan yadnya kepada bumi, sebagai timbal balik agar manusia tidak hanya bisa menerima bahkan ada yang sampai merusak apa yang telah diberikan bumi ini kepada kita, tapi berusaha untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada bumi ini.
Alam bukan semata-mata lingkungan natur, tetapi juga kultur. Alam berarti rumah dengan segenap dimensi potensi dan persoalan. Saya mencoba mempertemukan efek-efek antara kultur VS natur. Manusia dan alam serta impak ketika eksplorasi kultur manusia mengubah wajah alam dan peradaban.
Perubahan alam yang mengakibatkan bencana-bencana dimuka bumi ini adalah masalah serius yang semua orang mempunyai kewajiban untuk menanggulanginya, serta peran seluruh elemen masyarakat sangat menentukan keselamatan ekosistem yang ada dibumi ini.
Perubahan lingkungan alam dengan berbagai akibat dan resikonya mengubah cara pandang saya sebagai praktisi seni. Seni tidak lagi berbicara sebagai objek kajian ilmiah atau tidak lagi berbicara pada teori-teori konvensional, tetapi seni merupakan bagian dari kesadaran dan tinjauan kritis terhadap lingkungan di sekitarnya, serta fenomena-fenomena sosial dan realitas kebudayaan yang mengalami perubahan yang berdampak pada keberlangsungan hidup manusia.
Saya menyadari bahwa pada akhirnya seni rupa bukan sekedar ruang ungkap estetik dan ekspresi artistic personal semata, studio bukanlah hanya kantor yang sibuk dengan kreativitas dan produksi karya seni, karya seni bukan sekedar hasil kerajinan tangan para perupanya, kolaborasi bukan sekedar kerja bareng urun karya, dan pameran bukan sekedar prestise dari sebuah pencapaian estetik artistik atas kepentingan sebuah projek belaka, melainkan pencapaian ideal kesenian melalui eksplorasi estetik, sosial dan cultural yang dilakukan oleh perupanya.
Saya dan rekan-rekan muda yang terlibat dalam setiap program Ecoko Green Project sadar bahwa sudah saatnya berfikir sebagai subjek yang terobsesi pada gerak kebuadayaan.
Untuk membuka ruang evaluasi dan pembelajaran yang lebih kritis, dalam pembukaan pameran Ecoko Green Project #1, kami mengundang pengurus yayasan dan aktivis lingkungan diantaranya Manik Bumi Foundation, Conservation International Indonesia, Denpasar Film Festival, Lingkara Photo Community, dan Gurat Institute untuk mengisi sesi diskusi ”Seni Untuk Bumi”. Dalam penutupan pameran ditandai dengan penyerahan 47 bibit pohon cemara kepada Manik Bumi Foundation, dimana bibit pohon itu merupakan hasil donasi 20% dari masing-masing baju yang terjual
#Tujuh poin pemikiran dalam “Ecoko Green Art Project”
- Kami bukan orang bisnis yang orientasinya mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dari prodak-prodak yang kami ciptakan, kami adalah orang seni yang berkarya dengan rasa tulus untuk sebuah kepuasan dan kemerdekaan berekspresi.
- Kami tidak mengejar pasar, kami bermain dalam wilayah pewacanaan isu-isu sosial budaya dan alam lingkungan yang kami hadirkan kedalam Desain-desain kami.
- Kami tidak hanya sekedar menggambar untuk hiasan Kaos, tapi kami menghadirkan jiwa batin dan perenungan rasa yang dalam pada setiap karya-karya kami.
- Kami tidak membuat produk yang hanya berfungsi untuk menutupi tubuh pemakainya saja, tetapi kami menciptakan sebuah karya seni yang mampu menggugah perasaan pemakainya dan orang-orang yang melihatnya.
- Kami tidak menjual produk ”kacangan” yang diproduksi secara masal dalam jumblah banyak hanya demi memenuhi permintaan pasar, kami hanya mencetak terbatas untuk setiap Desain. Desain-desain dalam “Ecoko Clothing Art Project” ini, kami bagi menjadi beberapa seri, dimana setiap serinya ada lima gambar yang kami buat melalui tahap sketsa manual buatan tangan (Handmade) diatas kerta.
- 20% hasil penjualan dari setiap T-Shirt akan didonasikan untuk kegiatan-kegiatan sosial dan disumbangkan kelembaga atau komunitas-komunitas yang bergerak dalam aktivitas pelestarian lingkungan.
- Kami menciptakan gagasan, ide, serta konsep yang matang dalam setiap desain-desain yang kami hadirkan, kami bergerak kearah yang jelas yaitu seni Rupa Penyadaran.
Project #1 :Seri “Kualisi Sangut Delem”
Wayang dikenal masyarakat Indonesia sebagai sebuah seni yang bermetode, baik dilihat dari ketokohan, karakter, bahasa yang merupakan dekadensi dari logika dan tapsir. Disamping itu, wayang juga merupakan “ Way Of Live” yang ada sepanjang sejarah peradaban manusia yang dasarnya adalah epos Mahabharata dan Ramayana. Wayang yang lahir dari sisi bingkai sastra dan agama ini tak sedikit mempengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara demikian juga kedalam pribadi seseorang.
Misalnya dalam tokoh pewayangan “Sangut Delem”, Sangut dan Delem ini dilukiskan sebagai dua kepribadian antara baik dan buruk, salah dan benar, nyata dan tidak nyata. Bagaikan sisi aliran pemikiran yang selalu berbeda dan tidak pernah akan sama, dimana dua aliran pemikiran itu selalu mencari makna-makna yang lebih tinggi dari kebenaran yang dinilai benar menurut pengetahuan itu sendiri.
Dalam dunia pewayangan, dari kacamata para purnakawan, dari perasaan dan kemanusiaan diteliti dan dilihat dalam banyak perspektif. Sangut selalu mendapat pujian dan tepuk tangan atas kepintarannya berbicara, bertutur kata, melakukan kritik atas segala kesewenang-wenangan yang terjadi, dia memiliki sifat “ Tahu dirinya tidak tahu”, dia tidak paham namun bersikap menerima ketidak pahamannya, mengaku kelebihan orang lain, penuh pertimbangan namun cerdas dan sangat kritis dalam pemikiran. Sedangkan Delem selalu jadi tertawaan di Bali sebab dalam bersikap paling tahu ditengah ketidak tahuannya, dia tidak tahu tapi tidak menerima pengetahuan orang lain. Dalam bersifat angkuh, pongah,sombong, licik, dan congkak didepan orang-orang. Suka omong besar, merasa paling benar, merasa hebat, merasa memiliki segalanya namun dia tidak bisa mengukur diri, percaya diri ditengah ketak pahaman. Dihadapan para kesatria dan para raja ia selalu tunduk, namun kepada orang-orang yang lebih muda darinya bertingkah sombong. Dalam pewayangan Bali, Delem sangat terkenal dan sering muncul bersama dengan sangut, melakukan dialog penuh lelucon namun terselip nasihat. Keduanya merupakan tokoh purnakawan yang bersifat jelek.
Foto Desain Seri “Kualisi Sangut Delem”

“Peminum”

”Calo Tanah”

“Rebutan”

“Narsis”

“Orasi”
Project #2 : Seri “Seve Petani”
Situasi pertanian saat ini tak ubahnya dengan sektor lain dalam masyarakat Indonesia, yaitu semakin terpinggirkan dan menjadi bagian dari kelompok yang dimiskinkan. Sebagai Negara yang agraris, harusnya petani menjadi bagian dari masyarakat Indonesia yang sejahtera.Namun kenyataannya, petani saat ini menjadi salah satu sektor masyarakat yang paling banyak masuk sebagai kategori miskin di Indonesia.Faktor kunci dari hilangnya kesejahtraan pada petani atau pemiskinan petani, salah satunya disebabkan oleh semakin banyaknya petani yang tidak memiliki tanah, selain itu, peminggiran terhadap petani Indonesia sering terjadi dengan konflik agrarian yang disebabkan oleh perampasan tanah.
Berbagai fakta diatas, umumnya terjadi karena kebijakan Negara yang tidak berpihak pada petani.Sejak Orde Baru berkuasa, undang-undang pokok agrarian yang memiliki semangat dalam mewujudkan reformasi agrarian dimandulkan untuk memuluskan pergerakan modal di dalam Negeri.Kemudian, diikuti dengan berbagai kebijakan yang memiliki semangat liberalisasi disektor pertanian, perkebunan dan kehutanan.Negara dalam hal tersebut cenderung memilih untuk berpihak pada pemodal dan menjadikan prakondisi yang memungkinkan untuk menggusur dan memiskinkan petani.Kenyataan Negara yang berpihak pada segelintir pemodal dan memiskinkan sebagian besar petani tersebut, dikarenakan para pembuat kebijakan Negara sendiri bukan dari kelompok atau kelas petani, melainkan dari kelompok pemodal. Sehingga, mereka akan membuat kebijakan sesuai dengan kebutuhan kelompoknya.
Petani yang sesungguhnya masih mengalami kegamangan dalam menempatkan diri di alam budaya modern, tiba-tiba sudah ditahbiskan dan diharuskan menjadi produsen sekian banyak hasil pertanian yang sangat dibutuhkan orang banyak. Dengan kata lain, petani telah dipaksa dan terpaksa bekerja keras menolong diri sendiri dan orang lain. Sementara dalam kehidupan sehari-hari dia masih menghadapi sekian banyak problem, baik yang tradisional maupun yang baru sejalan dengan laju modernisasi dan pembangunan.
Tampa mengecilkan nilai petani, kalau mau jujur, sebenarnya jarang orang muda yang bercita-cita menjadi petani. Kendati Indonesia terkenal sebagai Negara agraris, namun mereka justru menginginkan berkerja di kota, sebagai karyawan atau pegawai negeri yang dianggap lebih bergengsi. Jutaan anak petani yang besar dan pandai dari hasil pertanian bapaknya, kini “terbang ke langit”.Tak mau lagi menyentuh tanah serta alam pedesaan masa kecilnya.
Di sinilah ironisnya, petani yang kata orang adalah soko guru pembangunan bangsa dan Negara, ternyata hanya ditempati oleh orang-orang yang terpaksa. Terpaksa tinggal di desa, bertani untuk mempertahankan hidup, menyerah kepada nasib karena tak punya pilihan lain kecuali membanting tulang karena kemampuan intelegensinya sangat terbatas. Bertani akhirnya hanya di tolerir oleh mereka yang pendidikan formailnya rendah.Semacam tempat pelarian buat mereka, gagal mendapatkan pekerjaan lebih “terhormat”.
Untuk menaikan tarap hidup dan merebut kembali kesejahtraan petani, bisa dilakukan melalui jalan kedaulatan rakyat. Kedaulatan rakyat tersebut hanya bisa tercapai dengan persatuan rakyat lintas sektoral yang dirugikan oleh hal yang sama, yaitu kebijakan Negara yang bernafas kapitalisme-neoliberal. Karena kelompok yang dirugikan oleh kebijakan tersebut tidak hanya pada sektor pertanian saja, melainkan juga pada sektor buruh, nelayan, pelajar dan mahasiswa, kaum miskin kota, perempuan dan masyarakat marjinal lainnya, maka persatuan diantara sektor tersebut merupakan kunci kemenangan sejati. Untuk merebut kemenangan itu, tidak bisa lagi rakyat menggantungkan dirinya, kecuali pada diri sendiri.Oleh karena itu, pembanggunan kekuatan politik alternatif yang lahir dari gerakan langkah persatuan rakyat lintas sektoral harus menjadi sebuah keniscayaan untuk merebut kesejahtraan bersama.
Foto Desain Seri “Seve Petani”
“Anak Petani”
“Padi VS Dolar”

“Penjaga”
Project #3 :Seri “Badut Desa”
Dalam kehidupan sehari-hari tentu kita mengenal sosok badut yang selalu akrab ditelinga kita sejak kecil mungkin hingga sekarang. Seseorang yang sengaja memperjelek diri sendiri dengan melukis wajahnya atau dengan tingkah lakunya yang serba kocak, sehingga terkadang membuat kita merasa senang dan gembira bagi orang-orang dewasa. Namun tidak hanya demikian yang dapat kita pelajari dari sosok karakter badut. Mereka rela memperjelek dirinya untuk membuat orang lain senang dan tertawa lepas dan tidak sedikit dari mereka merasa ketakutan akan tatanan muka dan tingkahnya. Mereka berpakaian penuh warna-warni menandakan bahwa seseorang badut itu mempunyai keinginan untuk menghangatkan suasana dan mereka rela diejek oleh sebagian orang karena profesi dan tingkahnya. Iya karakter yang berusaha menyenangkan orang-orang di sekitarnya, bahkan orang-orang yang tak dikenalnya, dia pandai menyembunyikan kesedihan, beban, kesakitan didalam hati dan jiwa mereka. Ia menutupi dengan topeng bahagia, agar tidak ada yang tau berapa banyak beban yang mereka tanggung.
Dalam seri Badut Desa menampilkan ikon badut yang mencintai alam dan lingkungan, sebagian masyarakat kita masih memandang sebelah mata aksi-aksi penyelamatan lingkungan seperti gotong royong warga desa memungut sampah di lingkungan desanya, bertani, berladang dan lain-lain sebagai prilaku yang kampungan dan menjijikan. Profesi petani yang dianggap rendah serta aktivitas berladang yang dianggap tidak bermutu. Profesi-profesi yang dianggap yang sering ditertawai dan dianggap rendah justru sebenarnya pekerjaan atau aktivitas yang sangat bermanfaat bagi keseimbangan ekosistem alam demi pelestarian lingkungan.
Foto Desain Seri “Badut Desa”

“Menuju Lahan Kosong”

“Memberi Kesegaran”

“Mencoba Melindungi”
Project #4 :Seri “Local Hero”
Wayang adalah salah satu kebudayaan hindu yang masuk ke Indonesia berabad-abad silam. Meski dianggap sebagai mitus, tokoh-tokoh wayang dan kisah dalam pewayangan mengandung filosofi dan nilai moral yang tinggi tentang; kebaikan, kejujuran, pengorbanan, keteguhan, dan komitmen. Tak heran jika dalam perkembangannya, tokoh-tokoh wayang beserta kisah pewayangan sering dijadikan pelajaran bagi masyarakat.
Pada seri Local Hero, menghadirkan tokoh-tokoh kesatria mahabrata seperti Arjuna, Bima, dan Gatotkaca yang dijadikan ikon sebagai pahlawan lokal perduli lingkungan dengan berbagai atribut seperti senjata, yang didalamnya terkandung bahasa simbolik aksi penyelamatan lingkungan dengan memasukan unsure seperti ranting, daun, bunga, dan bibit pohon pada senjatanya.
Foto Desain Seri “Local Hero”

“Kekuatan Alam”

“Tanda Cinta”

“Di Tangan Sang Hero”
Project #5 :Seri “Polusi Konsumsi”
Dalam seri karya Polusi Konsumsi merupakan upaya saya dalam menyampaikan persoalan polusi yang menjadi momok di sekitar kita. Bagi warga kota metropolitan, polusi seakan menjadi teman makanan sehari-hari, warga kota tidak bisa menghindar dari serangan asap kendaraan dan kepulan asap pabrik yang menyesakan nafas, yang terus terulang setiap hari seiring bertambah banyaknya pemakaian kendaraan pribadi dikota-kota besar. Selain asap kendaraan, asap pabrik juga menyumbang polusi yang sangat besar dalam pencemaran udara. Selain itu asap rokok juga sangat berbahaya bagi kesehatan tidak hanya bagi perokoknya namu juga bagi orang-orang di sekitarnya yang menghirupnya. Kualitas udara yang semakin buruk sudah sangat memprihatinkan apalagi ditambah naiknya debu yang ditiup angin sudah menjadi konsumsi masyarakat kota-kota besar di Indonesia.
Tidak jarang masker menjadi salah satu alternatif untuk menanggulangi polusi udara dan debu. Tapi selain mengantisipasinya dengan cara tersebut, menanam pohon di sepanjang jalan juga bisa menjadi solusi penangkal selanjutnya untuk menangani polusi atau radikal bebas. Pohon telah terbukti efektif dalam melawan radikal bebas yang diakibatkan polusi udara, menanam pohon sebanyak-banyaknya adalah upaya kita memperbaiki kualitas udara agar lebih baik.
Foto Desain Seri “Polusi Konsumsi”

“Candu”

“Polusi Suara”

“Masalah Kepala”
Project #5 Kalaborasi Bersama Komunitas GAMASERA
Komunitas GAMASERA adalah komunitas seni dari jurusan pendidikan seni rupa Universitas Pendidikan Ganesha merupakan sebuah jurusan yang memiliki ciri khas tersendiri. Berbeda dengan jurusan seni rupa pada umumnya, Seni Rupa UNDIKSHA memberi pengalaman berkarya pada semua bidang seni rupa. Meskipun dalam pengalaman berkarya tersebut para mahasiswa tidak mendapatkan pengalaman khusus, namun penguasaan dasar semua kegiatan seni rupa tersebut menjadi pengalaman berharga dalam program perkuliahan di Jurusan Pendidikan Seni Rupa.
Para mahasiswa yang bergabung dengan jurusan pendidikan seni rupa UNDIKSHA membentuk sebuah komunitas jurusan yaitu GAMASERA. Mereka bergabung dengan komunitas ini untuk mengeratkan rasa persaudaraan dan kebersamaan. Kegiatan seni banyak diselenggarakan oleh mahasiswa dari GAMASERA untuk mengembangkan kreativitas dan mengeksplorasi apa yang sudah didapatnya dari perkuliahan seni rupa seperti mengadakan pameran seni, berpartisipasi dalam berbagai pameran besar tingkat nasional, mengadakan mural dan event-event seni lainnya.

“Masa Depan”, Ink On Paper, 42×29.7 cm, 2016
Bertambahnya jumlah penduduk di perkotaan, berdampak pada kebutuhan akan perumahan semakin tinggi. Hal ini mengakibatkan harga tanah di perkotaan menjadi mahal. Dampaknya pengembang berpikiran untuk melakukan reklamasi. Karena secara ekonomi biaya yang dikeluarkan bisa jadi lebih murah.
Pengembang yang melakukan kegiatan reklamasi bukan hanya satu pengembang. Untuk keperluan hunian, sudah pasti bukan untuk rakyat ekonomi lemah. Dengan adanya reklamasi, akan berdampak pada kerusakan lingkungan. Hal ini terlihat dari keruhnya air laut di sekitar lokasi reklamasi. Selain keruh air laut juga tercemar. Dengan kondisi tersebut biota laut akan hilang. Sebelum adanya reklamasi, nelayan mencari ikan terjauh 2 mil. Dengan adanya reklamasi nelayan harus berlayar lebih jauh 2 mil dari bibir pantai. Semakin jauh nelayan berlayar, ongkos produksi jadi bertambah. Sayangnya jumlah tangkapan ikan tidak ikut bertambah. Dengan kondisi tersebut perekonomian warga nelayan terkena imbasnya.
Untuk melancarkan proyek rekalamsi, Pengembang berusaha mendekati pemuka agama untuk melancarkan kegiatannya. Sudah ratusan juta uang digelontorkan, uang ini untuk membiayai umroh beberapa orang. Selain itu juga diperguanakan untuk membiayai kegiatan keagamaan. Disanalah pengembang berusaha memecah belah warga kampung nelayan Tokoh agama yang seharusnya membela nelayan yang kesusahan akibat reklamasi, justru membela pengembang. Dan ada indikasi pengembang membiayai demo tandingan dengan isu pro reklamasi
Sekarang ini sudah tidak jamannya membangun tapi meminggirkan rakyat. Karena tujuan dari pembangunan diperuntukkan untuk kemakmuran rakyat. Untuk apa pemerintah memaksakan reklamasi apabila mematikan rakyat miskin. Sehingga dalam karya tersebut kami coba untuk menampilkan permasalahan kompleks yang ada di Bali yakni reklamasi dan sampah, namun lebih terfokus dengan permasalahan reklamasi.

“Nafas”, Ink On Paper, 42×29.7 cm, 2016
Manusia sangat membutuhkan alam, manusia tidak bisa hidup tanpa alam karena alam memberikan sumber makanan dan pohon khususnya memberikan oksigen untuk kita hidup. Separuh kehidupan manusia adalah alam yang diwakili oleh pohon, juga saling membutuhkan satu sama lain, dan saling memberi dan menerima. kita masih bisa menjalani hidup sampai sekarang adalah karena kebaikan alam. Alam juga sebagai sumber inspirasi manusia. Namun apakah balasan dari manusia?
Di era modern sekarang manusia beranggap sebagai superior dalam ciptaan atau penikmat dari segala yang diciptakan. Dimana manusia dapat menjadi arogan dan menempatkan alam dan ciptaan yang lain hanya sebagai sapi perahan. Manusia hanya mengambil keuntungan dari alam dan ciptaan yang lain tanpa memperhatikan keberlangsungan dari alam tersebut. Padahal kita sadar sebagai manusia tidak bisa hidup tanpa alam namun tetap menebangnya dan membangun pemukiman bahkan sebuah kota. Jadi kita harus membalas kebaikan alam dengan menjaganya agar tetap lestari.
Bentuk visual yang kami tampilkan adalah manusia yang bergairah dengan sebagian wajah adalah pohon, sebagai lambang saling melengkapi. Dibawahnya terdapat bayangan kota, dimana tidak dapat dipungkiri pohon kita tebang demi kota yang sesak.
#Foto konsumen Ecoko






Dokumentasi Pameran Ecoko Green Project #1
“Sesi Diskusi Seni Untuk Bumi menghadirkan pembicara dari Conservation International Indonesia, Manik Bumi Foundation, Denpasar Film Festival, Gurat Institute”

“Ruang Pamer Ecoko Green Project #1”


“Penyerahan Donasi 47 bibit pohon cemara kepada Manik Bumi Foundation”
