OKA Art News

News Detail

Menimbang Ulang ‘Daya Hidup’ Kreativitas Oka Astawa

Oleh I Gede Arya Sucitra

 

I Gede Oka Astawa, seorang putra Bali asal Tabanan ‘bernyali’ merantau menempuh pendidikan tinggi seni di tanah Jawa, tepatnya di Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada tahun 2009. Saya mengenalnya sebagai adik kelas, dengan sosok yang pendiam namun kritis dalam mengeksplorasi potensi keseniannya.Daya hidup Oka Astawa dalam meningkatkan kemampuan personalnya baik dalam hal interaksi bersosialisasi, bermasyarakat, berkesenian, dan update pengetahuan layak diacungi jempol.Pergaulannya tidak hanya berkisar dalam lingkungan komunitas Bali, namun juga berbagai kalangan seniman, akademisi, komunitas daerah, institusi hingga himpunan kelompok-kelompok para pemikir muda dalam diskusi seni.Pengalaman bergaul dan merantau menjadi perjalanan kebudayaan yang sarat nilai kemanusiaan dan perjuangan.Oka sangat menyadari keadaan ini. Berada jauh dari tanah Ibu, akan melatih rasa adaptif lingkungan ‘di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung’, meraba awal bersosial bagaimana bertahan hidup dan menghidupi. Oka Astawa melecutkan pertanyaan diri “nilai apa sebenarnya yang didapat dari merantau; mencari ilmu dan pengalaman hidup ke negeri seberang pulau, apa hanya sekadar perubahan materi hidup, gaya hidup atau biar terkesan mapan dan menjadi tampil beda ketika pulang kampung?”.

Manusia, dengan eksistensinya membuat suatu gerakan yang aneh yang seolah-olah menyingkirkan segala sesuatu dari diri sendiri dan memandang segala sesuatu dari daerah lain dengan menyoroti apa-apa yang tidak tergolong ke dalam suasana dan realitas biasa. Seperti sebuah aliran filsafat ‘manusia mencari kebenaran, mencari hakikat atau diungkapkan dengan ungkapan filosofis, manusia adalah pencari hakikat wujud, pencari eksistensi’.Dengan mengambil jarak dari segala yang mereka kenali sehari-hari, mereka (perupa) mulai melakukan perjalanan ke daerah asing dengan proses awal yang penuh perjuangan coba dan gagal.Kemudian diakhiri berbuat atau bertindak dengan tonggak pencapaian pada eksistensi karya seni.

Dalam lingkaran pertanyaan diri dan proses kreatifnya, seorang seniman dapat menembus kedalaman dan menemukan keindahan dalam perkara sehari-hari yang mungkin sebelumnya tidak terduga sama sekali. Melalui skema dan pertentangan, seorang perupa menuturkan, menguraikan dan memikirkan persoalan sehari-hari.Ia kemudian mengambil jarak dari pandangan dunia sehari-hari. Tetapi bukan berarti melepaskan diri atau melarikan diri dalam himpitan dunia sehari-hari sebaliknya semua ini merupakan suatu gerak menembus sedalam-dalamnya untuk lebih mendekatkan ia pada dirinya sendiri.Manusia memang harusnya menjadi dirinya sendiri, tetapi hal ini tidak berarti harus mengisolasi diri, melainkan justru harus lebih aktif terlibat dengan sesuatu yang lebih tinggi yang oleh Jaspers disebut ketuhanan yang tersembunyi.Kebebasan manusia sesungguhnya merupakan karunia.Dalam titik inilah saya melihat gerak eksplorasi Oka Astawa, membuka dirinya untuk bisa mengapresiasi segala sesuatu baik dalam tataran problem sosial, keletihan dan kesempitan budaya, kapitalisme, kreativitas berkesenian hingga keseimbangan alam. Kesadaran akan kemungkinan-kemungkinan dari karunia kebebasan manusia tersebut menguatkannya bahwa, manusialah yang merubah dunia baik dalam sudut positif-negatif dan manusialah yang juga harus bertanggung jawab pada alam untuk kembali mengabdi padanya.

Disebuah dunia dimana spirit zamannya atau Zeith Geist sudah dihuni oleh roh-roh kapitalisme, konsumerisme, pragmatisme, sulit rasanya mendapatkan spirit idealisme filosofis yang berpihak pada proyek sejati kemanusiaan, memanusiakan manusia. Zaman ini lebih suka mengurusi hal-hal yang lebih praktis untuk memenuhi leisure (waktu senggang) dengan pleasure (kenikmatan) senikmat mungkin seolah hidup hanya sekali di dunia ini. Dengan semakin pesat dan canggihnya teknologi, manusia hari ini sudah sangat percaya pada dirinya sendiri dan sudah merasa tidak perlu lagi menggali hakikat karena segala sesuatunya telah terungkap, tidak perlu lagi mengorek-orek kebenaran karena semuanya sudah serba transparan.Hal inilah yang kemudian menempatkan pikiran dan orientasi manusia mendapatkan tempat yang serba sempit dalam pikiran dan keinginan manusia kontemporer.

Oka Astawa membekali dirinya dengan kekuatan budaya Bali terutama pada aspek pengalaman sosial, keselarasan alam dan nilai-nilai kearifan lokal.Dengan pemahaman filosofis tersebut, Oka menyikapinya sebagai kearifan lokal yang hidup dan bertumbuh, sehingga memerlukan interpretasi dan reposisi yang tepat sehingga dapat menyelami spirit jaman yang sedang berkembang.Sangat banyak nilai kearifan lokal Bali yang mendasari Oka dalam bertingkah laku, berpikir, berujar dan mengekspresikan karya seninya.Beberapa seperti Tri Hita Karana, Rwa Bhineda, dan Desa Kala Patra.Konsep dasar Desa-Kala-Patra yang diterapkan Oka dalam adaptasi diri pergaulan sebagai salah satu tanda kehidupan adat dan tradisi yang telah diinterpretasi dan direposisi adalah metode untuk mempelajari, menyerap, dan kemudian mengadaptasikan dirinya dengan wajah zaman.

Desa-Kala-Patra” yang diambil dari pepatah asli Bali yang berarti “Place-Time-Identity” atau “Tempat-Waktu-Identitas/Situasi”. Ini yang diajarkan Empu Kuturan pada masyarakat Bali dan konsep tersebut di Bali  sangat menghargai perbedaan satu desa dengan yang lain ( kini pemahaman “desa” tidak lagi sebatas wilayah daerah namun telah meluas dan tanpa batas geografis).  Desa (Tempat) bagi orang Bali sangat penting, untuk menunjukkan asal-muasal, keterikatan dan juga tujuan serta arah. Dengan mengusut tempat orang Bali menyadari benar keterikatannya kepada rumah, asal-usul, braya-pisaga-semeton (saudara – tetangga –keluarga ) bahkan juga tamu. Itu kemudian disempurnakan oleh adanya keterikatan pada Waktu (Kala), sehingga siang-malam, pagi – sore, kemarin, hari ini dan besok dapat mengubah dan membentuk untuk menyempurnakan apa yang sudah terhubungkan dengan tempat. Dan Patra yang berarti situasi, keadaan, kondisi, menyebabkan dua hal yang terdahulu (tempat, waktu) mau tidak mau harus dipaskan, dicocokkan, diklopkan dengan apa yang sedang terjadi.

 

Daya Hidup Kreativitas 

 

Sejatinya manusia dalam berkehidupannya tidak pernah terlepas dari unsur seni.Kreativitas yang menjadi pilar dasar berkesenian menuntut manusia untuk selalu menghasilkan sesuatu yang bernilai.Untuk itulah kemampuan seni ini harus dikenali, ditingkatkan dan diapresiasi dalam wujud yang beraneka ragam.Dalam seni, sebagaimana dalam berbagai kehidupan lainnya, keberagaman adalah sumber daya dan sekaligus peluangnya yang niscaya. Semakin khas suatu karya seni, semakin mudah ia dikenali dan diingat. Sejauh mana kreativitas hari ini?Sejauh mana kata “kreatif” juga telah membuahkan potensi besar yang menopang keberadaan seseorang, mengapa demikian penting kata itu? Sampai-sampai banyak yang mengatakan bahwa kata “kreatif” telah menjadi darah dalam proses berkarya, termasuk untuk mengukur dan menilai karya seni itu sendiri. Istilah “kreatif” bersumber dari bahasa Inggris “to create” yang disepadankan dengan istilah “mencipta atau membuat sesuatu yang berbeda (bentuk, susunan, atau gayanya) dengan yang lazim dibuat orang kebanyakan”.

Dalam arti yang hampir sama, kreativitas adalah kemampuan yang efektif untuk mencipta. Sepakat dengan yang dinyatakan oleh Profesor M. Dwi Marianto dalam bukunya Art and Levitation: Seni dalam Cakrawala, 2015, seni merupakan kemampuan kreatif manusia dalam menanggapi alam; kemampuan dalam menangani sesuatu yang menuntut pemecahan masalah, sehingga ia menjadi objek dengan sendirinya; kemampuan istimewa dalam mengubah suatu ide menjadi konsep kreatif guna dinyatakan menjadi suatu karya yang imajinatif, menarik, fungsional atau yang inspiratif. Di setiap budaya selalu saja muncul individu kreatif yang ingin melakukan penyegaran, perbaikan; atau yang menciptakan sesuatuyang lain guna memenuhi kebutuhan personalnya atau suatu keinginan yang besar untuk menghadirkan kebaruan, penyegaran seni, bahkan atas produk dan praktik seni yang telah mengakar dimasyarakatnya.

Namun kini sebagian orang juga menganggap kreativitas juga terkait dengan ihwal “kelayakan” atau “kepantasan”.Artinya, meskipun baru namun tetap memberikan nilai etik, kesopanan, kepantasan dan asas kemanfaatan. Kini, kreativitas telah mengguncang: nilai-nilai “kebaruan” dan “keaslian” dikritik dan dibongkar. Semua digantikan oleh cara berpikir yang plural, disentuh oleh atmosfir peristiwa yang memberi konteks, mungkin juga mengandung unsur parodi, antibentuk, dan melakukan penentangan struktur, kebiasaan atau hukum. Kreativitas kini bisa dikatakan sebagai kata yang telah matang.Berganti baju setiap zaman.Berbasis temuan-temuannya diperkaya oleh beragam ilmu dan kajian.Ia adalah bagian dari lintas pemikiran. Kreativitas adalah ‘ruh’ yang menjadikan penikmat karya tersebut menjadi mahfum, merasa mengalami keindahan, sekaligus menghadapi drama hidup yang mendalam dan bermakna.Kreativitas kini menjadi penyegar dari sebuah perenungan, perubahan, pertumbuhan dan evolusi yang berakhir menjadi pemikiran maupun artefak.

Di sisi lain, bagi sebagian besar aktor kreatif, proses kreatif sama halnya mendengar suara-suara bawah sadar. Dari bawah sadar, pandangan, pemikiran mengalami pengentalan, pengetatan, dan membulat menjadi kesadaran.Karena seni tak mengandung sistem yang ketat dan ditopang oleh sejumlah hal di luar dirinya, maka membuat kreativitas seperti menemukan dunianya. Di samping itu karena seni merupakan perpaduan sikap-sikap ‘antara’, baik antara hal-hal yang stabil-labil, gelap-terang, panjang-pendek, ketakutan-keberanian, imajinasi-fantasi-realitas, cerdas-naif, subjektif-objektif, konservatif-progresif, maka kreativitas memicu hal-hal yang tidak terduga.

Kebangkitan wacana kreativitas dalam konteks industri kreatif antara lain dipicu oleh gagasan dari Richard Florida, seorang yang dikenal pemikirannya mengenai potensi kreativitas sebagai sumber daya alternatif baru melalui bukunya The Rise of Creative Class. Ia berhasil memprovokasi pengambil kebijakan publik, aktor ekonomi dan masyarakat kreatif di berbagai negara. Ia mengajak orang untuk memperhatikan arti penting modal kreativitas yang dimiliki oleh masyarakat di tengah krisis energi dan kerusakan ekologi. Pemikiran Florida menyadarkan orang untuk semakin menghargai, mengenali dan menggali berbagai potensi modal kreativitas yang dimiliki oleh masyarakat.  Pendek kata, kreativitas menjadi semacam sumber daya alternatif baru.

Geliat kreativitas Oka Astawa sejak awal memang memiliki ketertarikan pada aspek ekologi. Sebagai anak petani yang hidup dipelukan kebun, ladang , persawahan dan hutan berbukit, menumbuhkan pengalaman bawah sadarnya akan keterikatan atas alam. Beberapa tahun terakhir ini, daya hidup berkarya Oka menyiarkan tentang lingkungan. Baginya sangat penting kehadiran dan kekritisan seniman dalam mengelola karyanya untuk melibatkan lebih banyak peran serta apresian dan mengenalkan lebih dekat akan pemahaman ekologi; eco art, nature art, lands art serta seni berbasis lingkungan. Beberapa program yang diinisiasi Oka melalui interaksi elaboratif ruang sosio-kultural dengan seni yakni project “Oka Ke(m)Bali” antara lain: Open Studio ”Ke(m)Bali Hijau”, “Belajar Menggambar Bersama Anak-anak”, Pemasangan Karya Bendera “Ke(m)Bali Hijau”, Menanam pohon Project “Ke(m)Bali Hijau” pada hari Tumpek Wariga, “Menanam Hijau” Project Kolaborasi “Ke(m)Bali Hijau” I Gede Oka Astawa dengan “Menanam Air” karya I Wayan Sudarna Putra.

Kepekaan Oka atas situasi alam budayanya di Bali, memunculkan kegelisahan untuk bergerak melakukan sesuatu walaupun kecil namun jika dilakukan secara berkelanjutan dan interaksi massa yang lebih luas, bisa menimbulkan penguatan nilai dan inspirasi bagi manusia lainnya dan alam sekitar. Seperti projek menanam pohon “Ke(m)Bali Hijau”, Tanggal 22 november pada hari Tumpek Wariga. Seperti yang disampaikan Oka dalam testimoninya, “Tumpek Wariga sebagai Hari persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai Sangkara, Dewa penguasa tumbuh-tumbuhan yang dikongkritkan melalui upacara pepohonan. Menurut tradisi Susastra Bali yang menyebabkan tumbuh-tumbuan hidup dan memberikan hasil kepada manusia adalah Hyang Sangkara, itu sebabnya manusia wajib menyatakan rasa syukur dan penghormatan kepada Hyang Sangkara mesti dilakukan manusia dengan mengasihi segala jenis tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan itu yang kemudian menjadi sumber kehidupan utama bagi umat manusia.Dalam ajaran agama Hindu dikenal konsep Tri Chandra yaitu tiga unsur yang menjadi penyebab hidup dan kehidupan. Seperti Vata (udara), Apah (air), serta Ausad (tumbuh-tumbuhan). Tanpa ketiga unsur itu, kehidupan tidak bisa berlangsung karena itu, mengupacarai pohon di Tumpek Wariga merupakan laku simbolis manusia Bali dalam menyatakan rasa syukur kepada Tuhan atas anugrah kehidupan bagi segala yang tumbuh”.

Oka mengupas kegelisahannya dengan kedalaman konsep Hindu Bali yang tentunya pengalaman tersebut mengantarkannya pada pengenalan nilai kebajikan, supranatural dan gaib.Mengapa saya katakan gaib (supranatural) karena masyarakat Bali sangat mempercayai kekuatan-kekuatan yang terkandung dalam suatu tumbuhan.Semua tanaman baik besar maupun kecil; bunga, daun, batang, dan akar memiliki nilai dasar kehidupan yang dalam.Manusia secara instingtif memang sadar akan vibrasi estetik dari tumbuhan, yang memuaskan spiritualitas; manusia merasa paling bahagia dan nyaman ketika tinggal dan berdekatan dengan flora. Mulai dari kelahiran, pernikahan hingga kematian, rangkaian bunga selalu menjadi prasyarat, demikian juga pada setiap jamuan makan atau perayaan.

Fakta dan fenomena alam sekitar kita menunjukkan kepada kita bahwa selama ini kita cenderung bersikap menutup mata terhadap kehidupan makhluk lain di luar diri kita sebagai manusia. Di dunia yang modern dan materialistis ini, kita cenderung kehilangan kemampuan memaknai kegaiban dalam hal apapun. Tentu bila kita dapat mengerti dan memaknai manfaat akan sisi gaib dari alam dan seluruh isinya, kita akan menjadi berhati-hati dalam berinteraksi dengannya. Hal ini sebagai konsekuensi bahwa yang batin akan terus hidup dan anti memikul tanggung jawab dari bentuk lahirnya. Salah satu kegagalan kita dalam berinteraksi dengan alam adalah karena kita tidak mampu melihat kedudukan serta makna kegaiban alam dalam rangka kepentingan hidup, terutamannya keajaiban tumbuhan/tanaman.Konon dewi cinta dari Yunani, Aphorodite, pernah berujar bahwa tidak ada yang lebih indah di dunia ini dibanding sekuntum bunga, dan tidak ada yang lebih esensial dibanding tanaman.Rahim sejati dari kehidupan manusia adalah kehijauan yang menyelimuti tanah ibu pertiwi. Tanpa kehijuan tanaman kita tidak akan dapat makan atau bernafas.

Daya hidup ekologi lainnya yang coba dinafasi Oka dalam projek kolaburasi seninya yakni “Menanam Hijau” Project Kolaborasi “Ke(m)Bali Hijau” dengan “Menanam Air”, karya perupa I Wayan Sudarna Putra.  Konsep Project Kolaborasi “Menanam Hijau” ini dilatarbelakangi oleh kondisi bumi yang kerap dilanda bencana banjir, tanah longsor, kekeringan dan bahkan suhu bumi yang semakin panas (global warming), yang dapat berakibat buruk hingga nantinya akan mengancam kelangsungan mahkluk hidup di bumi ini. Karya ini mengandung pesan atau mengajak kita semua untuk menumbuhkan kesadaran menanam dan dengan pemahaman yang sangat sederhana,  bahwa lewat penanaman pohon, secara tidak langsung kita akan mendapatkan efek positif seperti  tambahan oksigen di bumi, kesejukan, sebagai bahan makanan, untuk obat-obatan, material bangunan  dan banyak lagi yang lainnya serta  yang terpenting bahwa lewat penanaman pohon  kita telah  melakukan tambahan aktivitas yakni berinvestasi tentang air untuk kelangsungan hidup di masa yang akan datang.

Ada sebuah penelitian menarik mengenai keajaiban tumbuhan dan sudah dibukukan yakni Secret Life of The Plant karya Peter Tompkinn dan Christoher Bird, 2008, yang menyatakan bahwa tanaman – tampaknya mampu untuk merasakan dan bereaksi terhadap apa yang terjadi di lingkungan mereka pada tingkatan kecanggihan yang melebihi kemampuan manusia. Dalam sebagian kisah buku tersebut menceritakan pada permulaan abad kedua puluh, seorang ahli biologi berbakat dari Wina yang bernama Raoul France mengemukakan  gagasan yang mengejutkan para filosof alam kontemporer. Menurutnya, tanaman menggerakkan tubuh mereka sama bebas, mudah, dan anggunnya sebagaimana binatang yang terlatih ataupun manusia, dan satu-satunya alasan mengapa kita tidak menyadari fakta ini adalah karena tanaman melakukannya dalam langkah yang lebih lambat daripada manusia.  Akar tanaman, menurut France dengan penuh semangat menghujam ke dalam bumi, dan kuncup serta ranting berayun dalam putaran tertentu, daun serta bunga menekuk dan bergoyang dalam perubahan, sulur-sulurmelingkar dalam penjelajahannya dan dengan ‘tangannya’ mencapai dan merasakan lingkungan sekitarnya. Menurut France, manusia cenderung berpendapat bahwa tanaman tidak bergerakdan tidak berperasaan karena tidak punya waktu untuk mengamati mereka.Tanaman, ujar France, sanggup untuk mengemban tujuan: mereka dapat merenggang ke suatu arah, atau mencari sesuatu yang mereka butuhkan dengan cara-cara yang sama misteriusnya dengan kisah percintaan yang paling fantastik.

Pengalaman langsung lainnya berinteraksi dengan tanaman, dan tanah secara intens, kerja keras dan persahabatan batin dengan tanaman di kebun menyebabkan Dorothy Maclean, seorang supranaturalis, pecinta tanaman dan penganut sufisme, menyadari bahwa dengan meningkatkan kualitas vibrasinya sendiri, ia akhirnya dapat membuka pintu pada semesta dunia spiritual yang baru dari kehidupan tanaman. Menjadi jelas baginya bahwa pemikiran manusia, gairah, kemarahan, kebaikan, dan kasih sayang, semuanya mempunyai efek yang besar pada dunia tanaman, bahwa mereka sangat rentan terhadap pikiran dan emosi manusia yang memengaruhi energi mereka. Suasana hati yang jelek dan bermusuhan mempunyai efek menekan pada tanaman, sebagaimana perasaan gembira dan ringan pikiran akan mempengaruhi efek yang bermanfaat. Ia juga mengalami jika efek yang buruk dapat kembali pada manusia ketika mereka memakan produksi yang telah dimasuki getaran yang buruk. Jadi seluruh siklus akan menurun menjadi hawa jahat, bertambah pada bertambahnya kesengsaraan, kesedihan, penyakit; ataupun naik penuh harapan, membawa pada kebahagiaan dan cahaya yang lebih besar.

Seniman dengan segala kepekaan batin, kedalaman estetika, serta perenungan atas semua fenomena yang berkelindan dilingkaran hidupnya akan mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang bisa menjadi penanda kehadiran seni untuk berkontribusi positif. Berkarya seni adalah sebuah kebebasan batin, sebuah medan kristalisasi imajinasi kreatif. Lewat karya seni seniman berpikir, berujar dan berbuat.Semuanya harus menuju satu yakni memajukan kehidupan manusia menuju kebaikan, memanusiakan manusia dan menjadikan manusia lebih arif, berjiwa halus, dan memiliki rasa keindahan.

Jika kelak Oka Astawa dalam perjalana kreativitasnya diliputi oleh kedalaman rasa, kesadaran spiritual dan memahami lingkaran kehidupan, maka apapun yang Oka hadirkan, ciptakan melalui sentuhan seni adalah keselarasan  jiwa, harmonisasi manusia. Hazrat Inayat Khan, seorang sufisme musik mengungkapkan “sekarang bila saya melakukan apapun, tujuannya adalah untuk menyelaraskan jiwa, bukan alat musik, menjaga harmonisasi manusia, bukan nada. Bila ada sesuatu didalam filsafat saya, maka itu adalah hukum harmoni : bahwa seseorang harus menempatkan dirinya selaras dengan dirinya sendiri dan orang lain.” Bukankah tujuan berfilsafat memang sungguh mulia, philosophia, menjadikan manusia pecinta kebijaksanaan.

“Tumbuhkan selalu kegelisahanmu, Oka Astawa, antarkan harmonisasi manusia dengan vibrasi senimu, melaju bersama kecintaan pada alam dan semesta keajaiban maklukNYA”.

I Gede Arya Sucitra, pelukis dan dosen FSR ISI Yogyakarta