OKA Art News

News Detail

I+dialog+i : Jalan meraba ‘ideologi’

Sebuah petikan pembacaan oleh. Hendra Himawan*
Kesenian seringkali bersinggungan dengan ideologi dan wacana besar sosial dan politik. Entah sosialis-komunis, liberal-kapitalis, atau apapun itu. Dan dalam perhelatan ini kami lebih tertarik untuk menengok ‘ideologi seni’ itu sendiri. Meminjam istilah  Sanento Yuliman, ‘ideologi seni’ lahir sebagai reaksi alternatif ketika kepercayaan pola otoritas seni menaruh harapan yang besar pada keberadaan representasi persoalan sosial dan politik dalam ekspresi seni. Dimana hal ini telah mewarnai sepanjang sejarah seni rupa modern Indonesia. Bahkan ketika seni rupa kontemporer yang bersemangat easy going berharap mampu melepaskan diri dari beban-beban ideologis, senyatanya kepayahan. Jauh lebih vulgar dan bertambah lebih parah. Gagasan ‘pembebasan’ semenjak modernisme hingga posmo yang berupaya melucuti aspek politis dan sosial dari seni telah gagal. Praktek ‘ideologi non ideologi’ dan upaya-upaya ‘depolitisasi seni’ berbalik arah menjadi langkah ‘politisasi’seni itu sendiri. Kita memupuk keyakinan yang besar pada kapasitas mobilisasi seni sebagai interpretasi kebebasan individu secara maksimal ditengah masyarakat yang semakin hanyut dalam beragam budaya massa. Seni menjadi satu bidang praktik dan teoretik yang khas dan khusus. Sementara persoalan yang sering terjadi dalam praktik ini adalah : bagaimana sebuah ‘ideologi’ mampu bermakna bagi setiap orang? Bagi tiap tiap orang yang hendak disebut sebagai ‘masyarakat’? Kami memahami bahwa hal ini sangat pelik, maknanya, kami berupaya bahwa ‘ideologi seni’ hari ini harus mau untuk dinegasi, di negosiasi, dan bersifat dialogis. Bahwa persoalan citarasa estetik, pilihan artistik itu adalah wilayah personal, komunikasi menjadi pertimbangan utama dalam presentasi kepada khalayak. ‘Ideologi seni’ harus cair, lentur dan mampu lebur dengan tujuan gerakan kebudayaan yang lebih luas.Kalo boleh kami katakan, perhelatan Oka Art Project 2014 ini adalah satu upaya untuk mendefinisikan diri. Sebab, tanpa definisi kita tidak akan pernah sampai pada sebuah konsep (kesenian, kesenimanan). I+Dialog+I, boleh dibaca sebagai ‘aku berdialog dengan aku’ (sebuah solilokui), ataupun secara serampang lidah : ‘ideologi’. Inilah sekumpulan gagasan, pemikiran yang diupayakan Oka Astawa se-objektif mungkin untuk melihat dinamika persoalan yang melingkupinya. Ideologi adalah sejumput gagasan yang memang secara komprehensif dapat digunakan untuk melihat segala sesuatu. Yang secara etimologis, boleh dimaknai sebagai dialektika tentang asal usul, hakikat ide, dan gagasan.

Tradisi sebagai Latar

Tradisi dan adat memang menjadi pangkal dari gagasan project Oka Astawa kali ini. Latar belakang kultur Bali yang mengikatnya kuat, menuntutnya untuk bersikap. Negosiasi atas ‘hukum banjar’ yang menyuruhnya pulang dijadikannya sarana untuk mengulik mental dan pola pikirnya sebagai bagian dari kaum rantau. Membaca dan menyisir tatanan daerah asal, bertanya pada para orang tua dan perupa seniornya, mencari tahu apa yang harus dilakukannya ketika pulang, menjaring peluang atas pilihan hidup, adalah sekian latar yang mendasari penciptaan karyanya. Pertanyaan dan kerja kerasnya mencari jawabanini, kemudian kami maknai sebagai upaya untuk memperbincangkan peluang dan sisi positif dari sekedar keluh kesah melawan tatanan. Ia  menuntun Oka Astawa untuk mempelajari tentang ‘rumahnya’.

Tradisi, kami kira adalah satu hal yang sangat penting untuk diulik kembali, dikaji ulang, ditengah gemuruh perbincangan identitas yang tak pernah selesai. Kembali kritis melihat tradisi adalah satu dari sekian jalan untuk menemu kesimbangan pemahaman dari pikiran poskolonal yang cenderung melihat eksotika etnis, atau gemuruh perlawanan lokal yang menjebak. Menengok tradisi, memaknai dan memunculkannya saya kira menjadi satu celah untuk membangun jembatan antara perasaan dan pertanyaan akan pusat dan peripheral.

Rekam : Proses demi proses

Memahami bahwa persoalan ideologi adalah juga persoalan dialektis, dan mempunyai kerangka motif yang terstruktur, maka dalam projek seni ini Oka Astawa membagi tema besar pencariannya ke dalam beragam sub kegiatan.  Dikerjakan hampir 7 bulan ini, beragam aktivitas dilakukandiantaranya berupa kajian kecil, wawancara dan sharing dengan para perupa, disambung dengan kerja kerja kolaborasi untuk membangun komunikasi dan sharing pengalaman.

  1. Mengawali dengan kajian kecil, Oka Astawa melakukan wawancara atas pengalaman dan praktek kesenian para perupa senior yang telah lama menetap dan berkarya di Bali. Kegiatan ini berpijak pada asumsi dasar ketidaktahuan akan bagaimana menjalani proses kesenimanan di wilayah dengan tatanan norma adat yang ketat mengikat, kolektivitas yang kental, dan ritual agama yang tiada henti. Menemui Nyoman Erawan, Made Wianta dan Pande Gede Supada, ia menimbang pengalaman kreatif mereka sebagai seniman.

Ketiga seniman dalam video wawancara yang didokumentasikannya seolah menyatakan pandangan yang sama bahwa hidup berkesenian di Bali adalah negosiasi atas ego diri dan ego komunal masyarakat. Meski kental dengan ragam praktek kekaryaan, seniman yang ada di Bali harus menabung kerelaan dirinya menghabiskan sekian waktu untuk banjar, sementara kerja-kerja studio bolah dikatakan sangat kurang. Namun dimensi yang menarik ditawarkan oleh Made Wianta bahwa dalam kondisi apapun setiap seniman harus mampu memaknai apa yang terjadi dihadapannya, sebagai firasat dan keyakinan bahwa estetika adalah ilmu tertinggi yang menghububgkan manusia dengan Tuhannya. Kami kira inikah catatan penting dari kegiatan yang dilangsungkannya dibulan Juli-Agustus 2013 lepas.

Menemui ke 3 seniman disebagai ‘narasumber’ memang sangat menarik untuk melihat dan mendengar bagaimana perjalanan kreatif seniman semestinya dilakukan di Bali, beragam proses kreatif seyogyanya akan dijumpai Oka Astawa. Sebab bukan semata bagaimana menjalani kesenian di rumah sendiri, akan tetapi bagaimana pola kesenian, ideologi, strategi mobilisasi seninya, dan negosiasi2 dengan adat itu yang merumuskan strategi dan model kesenian yang akan di tempuhnya.

 

  1. Presentasi dokumentasi hasil kajian juga dilakukan oleh Oka Astawa sebagai satu upaya untuk berbagi pemahaman bersama dengan kawan-kawan. Bersama WASH Yogyakarta, beberapa data dan kajian yang diperolehnya selama proses wawancara kemudian di hadirkan dan didiskusikan dengan mengundang kawan kawan muda dan perupa Bali yang tinggal di Jogjakarta. Mengundang I Made Toris Mahendra, forum ini menjadi satu jalan untuk menemu perspektif bandingan atas praktek berkesenian para seniman di Bali dan di tanah rantau. Melihat dua pandangan tentang persoalan posisi dan letak geografis, mau tidak mau menuntut untuk bersiasat. Lain ladang lain belalang, setiap ruang menghadirkan peluang, model adaptasi, negosiasi dan konsekuensi konsekuensi logis tersendiri.

   

Pemutaran Video Holiday Art Sharing dan Diskusi Seni

 

  1. Kerja kolaborasi merupakan salah satu cara yang menarik untuk membangun pemahaman tentang bagaimana komunikasi seni dan praktek praktek kerja komunal dilakukan. Upaya untuk membagi gagasan, saling bertukar tangkap pemahaman maupun kerja kerja praksis, sehingga kerja kolaborasi ini bukanlah sekedar riuh gotong royong atau saling merespon kecenderungan visual yang selama ini sering berlaku di kalangan perupa muda. Diskusi dan meramu gagasan diupayakan Oka Astawa dengan menggelar diskusi dan presentasi komunitas di Kersan Art Space, pertengahan Januari 2014. Ada 4 komunitas yang dirangkul untuk kerja kolaborasi, yakni Komunitas Gigi Nyala, Komunitas Perupa Indonesia Timur, Komunitas Grafis Tangan Reget, dan Komunitas Kukomikan.

Diskusi Seni “Jejaring Komunitas”

 

Gigi Nyala adalah komunitas yang progresif dalam penyelenggaraan event pameran khas anak muda : pameran sketchbook, drawing, watercolour dan sebagainya. Satu komunitas yang berfokus pada ‘keterbukaan ruang bagi siapa saja, khusunya perupa muda untuk berekspresi dan berapresiasi’, tanpa membatasi kecenderungan estetik atau ideologi apapun. Independent, adalah satu kata yang menjadi platform mereka hari ini. Gagasan yang dilontarkan Oka Astawa, mereka tangkap sebagai sebuah proses dialektika dan kreativitas yang berkesinambungan. Meminjam filosofi angka’8’ sebagai simbol garis yang tiada putus, Gigi Nyala menangkapnya dengan mencipta karya instalasi. Kolaborasi dari gagasan hingga eksekusi karya mereka lakukan untuk menemu ruang dialog atas keterbukaan pemahaman tenatng apa itu proses kreatif dalam menempuh jalan berkesenian. Bahwa kemudian proses yang berkesinambungan itu akan menciptakan lontaran-lontaran pemikiran, hendaklah ia dapat dipersembahkan dalam ‘cangkir-cangkir’ karya bagi setiap penikmatnya. Karya instalasi yang bereka buat sekaligus menjadi satu simbol bahwa setiap pemikiran yang terlontar harus mampu dikomunikasikan, didiskusikan. Ideologi tidaklah tertutup, ideologi itu dialogis.

 

Komunitas Tangan Reget adalah komunitas grafis mahasiswa ISI Yogyakarta yang aktif dalam ekplorasi kerja seni grafis dari masing-masing individunya, sementara komunitas lebih berfungsi sebagai ruang sosialisasi dan wadah kerja-kerja komunal. Beragam aktivitas diluar grafis pun sudah mereka lakukan, seperti mural hingga flashmob performance di ruang-ruang publik. Eksperimentasi secara komunal yang selalu dilakukan menjadi media yang menarik bagi pengembangan individu di dalamnya. Mengangkat pola-pola tari kecak menggunakan medium spon, mereka merespon karya Oka Astawa, mereka berusaha untuk memahami bagaimana ikatan tradisi itu harus dilihat secara lentur, luwes. Setiap tatanan yang ketat harus dilihat sebagai sebuah gerak komposisi yang dinamis, berpijak pada keyakinan akan kebenaran dan kepercayaan bahwa ikatan komunal adalah kunci dari dinamika hidup masyarakat, sebagaimana yang diungkapkan oleh Sujud Dartanto (kurator senior) dalam tulisannya di katalog pameran ini.

 

Komunitas Perupa Indonesia Timur adalah komunitas perupa muda yang intens dengan tema tema akar tradisi mereka. Wilayah Indonesia timur yang eksotik dan penuh keragaman etnik, sering kali ditinggal, terlewatkan dalam pembicaraan di bidang apapun, pembangunan yang sengaja tidak merata, namun diam-diam dicuri potensi alamnya oleh penguasa. Perjuangan untuk menunjukkan eksistensi keberadaan ‘timur’ di wikayah ‘barat’ , menjadi satu momen yang menarik bahwa sampai saat ini mau tidak mau kita masih menanam dikotomi pusat dan peripheral dengan ketat, meski kita sampai detik ini sudah yakin ‘menolaknya’. Menggali tradisi, adalah kata kunci dari kawan kawan komunitas perupa ini. Mengangkat potensi lokal yang kaya dengan dimensi spiritual, menjalinnya dalam kolektivitas komunal, sehingga masing masing individu mempunyai ruang memahami diri sebagai bagian dari masyarakatnya. Menghadirkan karya tugu penyembahan kepada Dewa Langit dan Dewi Bumi ‘Labunara’ dari Flores Timur, lengkap dengan sesaji dan performance tarian dari Ambon, mereka memadukan simbol-simbol spiritual sebagai karya seni. Hal ini tentu sangat menarik sebab pada akhirnya sebagai representasi diri, sebuah karya tidak bisa dilepaskan dari latar belakang kultur asal perupanya. Bahwa hal itu dipadupadankan dengan kondisi kekinian, adalah persoalan celah komunikasi saja yang perlu untuk dibangun.

 

Kukomikan, tidak ada kaum muda pecinta seni rupa Yogyakarta yang tidak mengenal gerak cepat komunitas yang bermarkas di Wonosari Gunung Kidul ini. Aktif dalam gerakan mural dan street art, Kukomikan menggelar beberapa project seni partisipatoris dengan melibatkan komunitas masyarakat di daerah pinggiran pantai selatan. Di Yogyakarta mereka juga aktif mensupport isu-isu gerakan muda yang berbicara tentang kota dan ruang publiknya. Menghadirkankan karya dua dimensi yang kental dengan spontanitas, mereka menyatukan lontaran gagasan Oka Astawa dengan ‘kebiasaan’ praktek kerja yang selama ini mereka lakukan. Kami kira ini adalah satu model penciptaan karya yang menarik, ketika bertemu dua praktik kecenderungan karya yang berbeda : studio dan individual + outdoor dan komunal. Dialog proses kreatif diantara mereka, menjadi pertemuan ‘ideologi’ penciptaan karya yang menarik.

Melihat komposisi masing masing komunitas, kami kira Oka dapat menemu banyak pemahaman berkaitan dengan ideologi yang diusung, pola kerja komunitas, hingga bagaimana projek kolaborasi ini dapat dilakukan. Dalam kerangka ini sharing idea berlaku, ia memberikan peluang untuk lontaran idea nya ditafsir dan dimaknai ulang melalui praktek kerja yang biasanya di lakukan oleh kawan kawan komunitas. Mencari ‘diri’ sekiranya adalah kata kunci yang dapat menuntun setiap individu yang terlibat dalam project ini, untuk terus bertanya pada diri, melakukan otokritik dan mungkin koreksi atas definisi ‘ apa dan bagaimana seni rupa saya’!

  1. ‘Open studio’ adalah satu gagasan yang menarik ketika proses negosiasi dan kolaborasi antara Oka Astawa dan keempat komunitas ini dikomunikasikan secara langsung kepada publik. Bagaimana antusiasme dialog yang terjadi, interaksi idea antara keduanya, dan interaksi praksis antara seniman dengan publiknya berlangsung. Saya kira ini adalah tawaran yang menarik untuk mendokumentasikan proses kreatif ini secara live dan performatif. Bahwa kritik yang terlontar dari audiens jika kerja kolaborasi ini masih terbelah belah, belum utuh menjadi satu, kami kira ini menjadi catatan khusus untuk merumuskan kembali bagaimana format dan model komunikasi dalam kerja-kerja komunal. Pertemuan antara ‘yang individual’ dan ‘yang komunal’ saya kira menjadi celah yang menarik untuk dibicarakan lebih mendalam. Dialektika berfikir seperti apakah yang kemudian mampu dijalani dan dipresentasikan kepada publik. Sejauh apa tawaran yang diberikannya dalam projek ini, sebagai audiens kita belajar memahami bahwa begitu beragam praktek kesenian yang kita lakukan, dan mustahil untuk merangkumnya menjadi satu. Negosiasi tataran ide, metode kekaryaan, hingga seberapa besar porsi kerja kolaborasi ini, kami kira rekan-rekan komunitaslah yang mempunyai hak untuk menilainya, sebab presentasi ini merupakan kerja bersama 4 komunitas, sementara Oka Astawa berada dalam wilayah penyambung benang merah atas keragaman-keragaman yang muncul.

Pameran Instalasi, Performing Art dan Open Studio

 

  1. Untuk membuka ruang evaluasi dan pembelajaran yang lebih kritis, dihujung rangkaian kegiatan Oka Art Project 2014 ini, kami mengundang perupa senior Entang Wiharso (perupa) Christine Cocca (Antena Project), dan I Gede Arya Sucitra (Dosen ISI Yogyakarta dan Ketua SDI Yogyakarta). Dalam diskusi intens yang digelar di Kersan Art Space, Arya Sucitra memaparkan bagaimana pola kultur dan adat diBali yang dibebankan pada individu individu masyarakatnya sendiri berkaitan dengan tuntunan norma dan tuntutatn adat yang mengikat. Selain itu dia juga memaparkan bagaimana prakek-praktek kesenian yang lakukan oleh para perupa Bali, lulusan Yogyakarta, di daerah asalnya. Bagaimana strategi membangun jaringan dan tarik ukur antara menjalani kesenian dengan kewajiban-kewajiban banjar. Sementara Entang Wiharso memaparkan bahwa tidak ada dikotomi antara pusat dan daerah, berikut bagaimana harusnya praktek kesenian ini dijalankan oleh individu perseorangan berdasarkan pada pengalamannya.

Sementara Christine Cocca melihat bahwa upaya upaya project seni yang telah dilakukan oleh Oka Astawa, setidaknya memberikan gambaran akan pentingnya kerja kerja komunal sebagai model berkesenian hari ini. Pelibatan komunitas menjadi penting sebagai ruang eksperimentasi gagasan, komunikasi estetik, dan perayaan artistik yang tetap disesuaikan dengan ‘core’ utama konsep yang diusung.

Diskusi Seni “Ketika Orang Bali Merantau”

Dari ketiga narasumber, dapatlah difahami bahwa project ini sebetulnya merupakan satu kesinambungan utuh dari konsepsi dasar Oka Astawa sebagai bagian dari masyarakat tradis yang diikat oleh 3 karakter khasnya : kolektivitas, spiritualitas, dan upaya upaya untuk ‘memanusiakan manusia’ (kamanungsan, humanisme).

Hal inilah yang kemudian kita bisa merasakannya dalam karya-karya dua dimensi Oka Astawa. Dalam lukisannya ia berbicara tentang ambiguitas posisi diri diantara dua jalan hidup, upaya untuk melepaskan diri dari ikatan sekaligus terbentur realitas. Sebagian kegamangan, sebagian kemarahan. Lebur! Simbol bara api kami kira menjadi menjadi simbol dari kekalutan, disamping gairah hidupnya yang memang meletup-letup. Eksistensi diri yang terus menuntut untuk diperjuangkan. Berpijak dari ketiga ikatan khas masyarakat tradisi itu, Oka Astawa melakukan negosiasi. Bukan semata pada poin-poin norma hukum adat, lebih jauh lagi, negosiasi antara ‘aku’ dan ‘gerak kebudayaan’ yang lebih luas.

 

Dari ‘aku’ pada ‘mimpi gerak Kebudayaan’

‘Ideologi seni’ yang ingin terus dicari melalui project seni ini, lahir sebagai reaksi atas persoalan personal (ke’aku’an) Oka Astawa yang berkaitan dengan latar kultural yang ketat, pilihan hidup di dunia seni rupa yang penuh tantangan, hingga beragam tanggungjawab dari keduanya yang menuntut untuk dipenuhi. Sesederhana itu awalnya. Itikad yang berpijak pada satu pemikiran mendasar yang tidak disandarkan pada pemikiran-pemikiran yang lainnya.

Kami menyadari bahwa pada akhirnya seni rupa bukan sekedar ruang ungkap estetik dan ekspresi artistik personal semata, studio bukanlah kantor yang hanya sibuk dengan kreativitas. Kami, dan rekan-rekan perupa muda yang terlibat dalam project ini  sadar bahwa sudah saatnya berfikir sebagai subjek yang terobsesi pada gerakan kebudayaan. Untuk itulah ‘ideologi’ menjadi sangat penting : sebuah landskap gagasan dan orientasi-orientasi nilai penciptaan karya.

‘Ideologi seni’ yang kami fahami sebagai sebuah struktur visi, sangatlah berkaitan dengan beragam hal. Pertama adalah motif penciptaan karya (untuk apa dan untuk siapa karya ini diciptakan), kedua adalah metodologi (bagaimana karya itu diciptakan), ketiga fungsi karya tersebut dalam konstelasi sosial-politik-kebudayaan, dan keempat adalah cita cita apa yang ingin di raih dan ‘dunia ideal’ apa yang hendak diwujudkannya.

Hal ini mungkin terkesan sangat muluk dan merupakan sebuah obsesi yang besar, yang tidak mungkin dijawab dengan kerja perseorangan. Sebab, selain tidak bisa dilakukan secara soliter, ia memerlukan kerja kolaborasi yang konsisten, terus menerus diupayakan. Upaya ini harus terus diraba, dicoba, dan dikritisi ulang, terus menerus, karena pilihan hidup di jalur kesenian sendiri saja bukan satu hal yang mudah.

‘Ideologi’ disini difahami bahwa karya seni bukan sekedar hasil kerajinan tangan para perupa. Kolaborasi bukan sekedar kerja bareng ‘urun’ karya, dan pameran bukan sekedar prestise dari sebuah pencapaian estetik artistik atas kepentingan sebuah project belaka. Melainkan pencapaian ‘ideal’ kesenian melalui eksplorasi estetik, sosial, dan kultural yang dilakukan oleh para perupanya. Melakukan studi atau riset sosial untuk memahami persoalan (konten, tema, pesan), sebelum akhirnya memasuki dunia pengolahan simbol dan dihadirkan dalam entitas presentasi karya.

Kami meyakini bahwa jalan estetik tidaklah semata mata memenuhi hasrat seni semata, namun bagaimana masing masing subjek mampu mengambil bagian dari ‘pergerakan kebudayaan’ ini. Membongkar arus besar gagasan, pemahaman dan nilai mapan praktik kebudayaan. Terus melihat secara kritis, dan introspeksi diri sebanyak mungkin untuk menuntut fleksibilitas praktek kesenian, melakukan subversif kreatif atas tatanan praktek seni yang umum, atau yang sering dikatakan oleh Umar Kayam sebagai involutif.

Apakah Oka Astawa telah sampai pada tataran ini? Belum atau tidaknya tidaklah dapat dijadikan tolak ukur sekarang, namun sub project yang dilakukannya setidaknya mampu memberikan gambaran bahwa ‘ideologi seni’ harus terus dicari, diperjuangkan, dengan keterbukaan atas negosiasi-negosiasi dialogis dengan rekan rekan (individu maupun komunitas) yang terlibat dalam project ini, ataupun kita ‘masyarakat’ penatapnya.

*curator