OKA Art News

News Detail

ENERGI GEDE OKA ASTAWA

Oleh: I Wayan Agus Eka Cahyadi, S.Sn., M.A.

 

I Gede Oka Astawa atau biasa dipanggil Oka, merupakan sosok perupa muda dengan ayunan langkah yang energik dan dinamis.Sejak tahun 2011, Oka mulai menata energi berkeseniannya dalam suatu gerakan yang dia sebut Oka Art Project. Art Project bisa diartikan sebagai sesuatu yang terencana, berproses, memiliki proyeksi ke depan dalam ranah berkesenian. Sedangkan ‘Oka’, merujuk pada nama dan dirinya sendiri dalam kaitan sebagai individu maupun sosial. Melalui Project ini, sepertinya Oka ingin menghadirkan suatu wadah untuk belajarbersama, berproses menemukan sesuatu yang bermakna sebagai pendorong langkah melaju ke depan. Melalui kegiatan ini ada keinginan mendokumentasikan setiap gerak dan langkah yang dikerjakan. Hal ini dapat mengindikasikan seorang perupa yang sangat memperhatikan proses, serta menghargai pengalaman dalam meraih suatu pencapaian. Apa yang tengah dikerjakannya berpotensi menjadi hal yang sangat bermakna terhadap dirinya sendiri maupun ranah seni rupa yang lebih luas.

Kali pertama berjumpa dengan Oka adalah di Jogja saat dia masih menjadi mahasiswa ISI Yogyakarta.Ketika itu dia menyampaikan niat menggelar pameran bersama dengan teman-teman seangkatannya.Sebagai perupamuda dia tampak menonjol dibandingkan teman-teman seangkatannya.Sejak tahun 2010 atau baru setahun tercatat sebagai mahasiswa di jurusan seni lukis, Oka telah aktif terlibat dalam berbagai gelaran pameran.Menjadi menarik, setahun berikutnya dia sudah berani melaksanakan pameran tunggal yang berkonsep art project, sesuatu yang jarang dan mampu dilakukan perupa seusianya.

Oka menunjukkan tampilan diri yang tenang dan kalem, tetapi di balik itu sepertinya ada energi besar yang bergejolak dalam diri.Hal ini mengacu pada karya-karya seni yang dihasilkan.Pada karya lukisan, secara visual nuansa ekpresif sangat kuat hadir pada bidang kanvas.Sekilas, jejak-jejak abstrak ekspresionis terekam dengan jelas. Warna menampilkan perpaduan warna cerah, kontras dan gelap, yang dikerjakan dengan goresan kuas yang liar, ditambah dengan cipratan dan lelehan cat nan spontan, menghadirkan irama garis dan warna yang dinamis. Dari perpaduan itu pula objek lukisan menyembul secara tersamar di antara gelombang guratan garis berwarna. Bentuk-bentuk ini menampilkan satu atau sejumlah figur dengan gestur dan sikap tertentu, dan sering disertai dengan bentuk atau tanda lain yang mudah dikenali seperti api, cangkul, pohon, topi dll. Yang menarik, figur-figur ini seolah-seolah terbentuk dari tetesan atau tumpahan cat yang tidak terencana. Oka sepertinya tertarik memaksimalkan sifat alami dari material, menganggapnya sebagai sesuatu yang memiliki energi dan kemampuan untuk menghasilkan suatu bentuk yang tidak terduga .

Oka merupakan sosok perupa muda yang haus akan pengetahuan. Dia selalu memiliki keberanian yang lebih untuk mencoba sesuatu yang beda. Beda dan berani mungkin kata itu yang bisa mewakili sepak terjang perupa ini dalam berkesenian.Beda karena berani melakukan pergerakan di luar zona nyaman aktivitas seni rupa pada umumnya. Hal ini ditunjukkan melalui sejumlah kegiatan dalam balutan label Oka Art Project. Melalui wadah Oka Art Project, dia sepertinya menemukan tempat berpetualang, bereksprimen dengan ide dan gagasan serta mencoba memanfaatkan media-media atau bentuk-bentuk seni yang lain. Selain itu, project ini menjadi arena menumpahkan keresahan dan kegelisahan yang dia temui baik muncul dari lingkungan internal maupun eksternal.Mulai dari perihal eksistensi sebagai seniman, keberadaan seniman dengan lingkungan sosial, hingga perhatian terhadap lingkungan alam yang semakin terdesak di tengah ingar-bingar industri pariwisata.Hal ini yang selanjutnya mewarnai tema-tema dalam proyek-proyek seni yang dia kerjakan.

Aktivitas seni rupa yang umum dan menonjol diketahui adalah memproduksi karya seni dan kemudian pameran. Di sini karya seni menjadi fokus utama, sedangkan proses bagaimana seorang seniman melahirkan karya seni serta bagaimana karya itu mendapat apresiasi masyarakat seolah terpinggirkan. Seniman biasanya bekerja di dalam studio masing-masing dan  tertutup atau sulit diakses masyarakat sekitar. Sedangkan apresiasi dan pembicaraan seni rupa sangat terbatas dan lebih sering terjadi di dalam gedung gallery.Kesan elit memang begitu terasa dalam kehidupan seni rupa modern.Pemahaman yang timpang telah menjadikan karya seni rupa modern semakin berjarak dengan masyarakat kebanyakan.Fenomena ini sepertinya menjadi bagian dari kegelisahan Oka.Dalam project pertamanya, yang dikerjakan tahun 2011, dia mulai dengan menghadirkan karya seni di tengah-tengah masyarakat. Menyebarkan karya-karya stensil dan membuat mural di sejumlah ruang di sudut kota Yogyakarta, suatu upaya menyapa masyarakat melalui media seni yang bersahaja.

Pada project kedua yang bertajuk I+DIALOG+I Oka mencoba membuka dialog yang lebih luas dengan berbagai kalangan. Mulai dari membuat ruang diskusi serta membuat jejaring kerjasama dengan beragam komunitas seni. Berbagai cara coba dilakukan Oka untuk menjalin komunikasi, dan berinteraksi dengan masyarakat luas. Berdialog, memberi dan tentunya ingin menerima banyak masukan.Salah satu yang menarik adalah dengan melaksanakan open studio, yaitu dengan membobol pintu studionya untuk dikunjungi secara bebas oleh berbagai kalangan masyarakat. Di sana Oka banyak menemui pengalaman yang menarik, kritikan, sindiran bahkan hujatan sering dia temui. Banyak juga motivasi yang diterima.Metode ini kemudian dilanjutkan pada project-project seni selanjutnya.Pada project seni tahun 2015 yang mengambil lokasi di kampung halamannya di desa Pangkung Tibah Bali, open studio dilanjutkan dan dilengkapi dengan membuka warung mini.Oka berperan sebagai perupa dan merangkap sebagai pedagang. Orang yang berbelanja ke warung mini yang dibuka di depan ruang studio, dapat berkunjung, melihat-lihat atau berdiskusi di studio Oka. Hal ini menjadi usaha yang efektif mendekatkan masyarakat sekitar dengan aktivitas yang dilakukan seorang seniman, sekaligus memungkinkan terjadinya transaksi jual beli ide dan gagasan yang sangat menarik. Tentu di dalamnya akan terjadi tarik menarik dan pertentangan pemahaman dari latar paradigma yang berbeda-beda.

Pemahaman mengenai seni dari kaca mata masyarakat di Bali dewasa ini sudah sangat beragam.Namun dalam paradigma seni tradisional Bali pada dasarnya seni tidak dapat dipisahkan dari masyarakatnya.Seniman, karya seni dan masyarakat merupakan satu kesatuan.Tidak dikenal istilah seni dan non seni, karena semua aktivitas tradisi dapat juga disebut kegiatan seni.Beda halnya dengan pemahaman dewasa ini, membicarakan seni seakan berat dan harus di laksanakan tempat khusus dan oleh orang khusus pula. Kemudian kaya akan istilah-istilah yang kadang memiskinkan keberadaan seni itu sendiri, seperti ada istilah seni rupa, seni pertunjukkan, seni lukis, patung dst. Hal ini semakin mempersempit potensi seni itu sendiri.Padahal apapun kegiatan atau aktivitas yang dilakukan manusia berpeluang disebut sebagai kegiatan seni, dengan syarat hal itu di sengaja dan merupakan sesuatu yang tidak biasa (Simatupang, 2013, 65).Dalam Art Project yang dikerjakan Oka, dapat ditemui berbagai tingkah dan polah dalam bingkai seni.Tidak sekedar membuat lukisan, tetapi juga ada diskusi, riset, berjualan, bermain dsb.Pada project terbarunya, Oka mencoba merambah dunia industri, yaitu memproduksi baju kaos yang diberi label ecoko green project.Desain baju kaos dirancang untuk menyampaikan ktitikan, sindiran dan pesan-pesan moral terhadap kondisi terkini yang sedang dirasakan di lingkungan terdekat. Melalui project ini, Oka menunjukkan perhatiannya akan pentingnya pemilihan suatu media sebagai saluran penyampaian pesan yang efektif. Yang menarik ketika dia bisa mempadukan industri baju kaos dengan kepedulian terhadap lingkungan alam. Setiap pembelian baju, akan memperoleh bonus berupa satu bibit pohon.

Melalui sepak terjangnya yang begitu berenergi dalam berkesenian, oka telah mengayun langkah ke depan. Menjadikan seni tidak hanya sebatas memproduksi karya seni, menawarkan suatu keindahan visual, tetapi juga memiliki makna bagi kehidupan, menyentuh dengan halus, menjadi motivator bagi timbulnya kesadaran diri, inspiratif bagi perbaikan lingkungan masyarakat atau ekologi. (Suprapto, 2009,108)

 

Simatupang,Lono Lastoro. 2013. Pagelaran.

Suprapto,Yos. 2009. Teknologi Tepat Guna Dalam Konteks Estetika.

 

I Wayan Agus Eka Cahyadi, S.Sn., M.A.

Dosen FSRD ISI Denpasar