BERPIJAK DI DUA KAKI
Pilihan Kerja Seni Oka Astawa
Oleh : Dwi S. Wibowo
Apa itu seni? bagaimana seniman bekerja? Dan apa relasi antara keduanya dengan realitas sosial yang berlangsung di sekitarnya? Saya kira pertanyaan itu bisa menjadi pemantik untuk melihat bagaimana seni, seniman dan realitas saling memiliki keterkaitan satu sama lain, sekaligus menjadi titik tolak untuk melihat bagaimana keberlanjutannya di masa mendatang. Sebagian seniman muda mungkin juga terjangkit pertanyaan-pertanyaan serupa, sebagian mungkin menemukan jawabannya, dan sebagian lainnya mungkin masih berkutat dengan benang kusut dalam kepala maupun ritme kerjanya.
Salah satu seniman muda yang juga terjangkit pertanyaan di atas adalah Oka Astawa, seorang perupa muda yang sedang gigih untuk melepaskan diri dari belenggu pertanyaan itu melalui berbagai percobaan yang ia lakukan selama menapaki masa-masa awal karir kesenimanannya saat ini. Saya mengenal nama Oka Astawa sejak masih tinggal dan bekerja di Yogyakarta pada kisaran tahun 2011, saat itu saya belumlah mengenal sosoknya secara personal, hanya melihat karya-karyanya yang saat itu memang kerap tergantung di ruang-ruang pameran.
Tidak sulit untuk mengenali karyanya yang berupa lukisan abstrak yang kerap dipadukan dengan material logam aluminium.Di banding nama-nama lain seusianya, Oka terbilang salah satu yang paling menonjol dan mudah diingat. Saat itu saya membayangkan bahwa karyanya akan menjadi penerus aliran abstrak ekspresionisme ala Bali yang sempat populer pada dekade 90’an. Entah saya berlebihan atau tidak, dan entah gaya itu masih relevan atau tidak setelah lewat hampir 20 tahunan.
Di luar kanvas, Oka juga mencuri ruang di antara dinding-dinding bangunan di kota Yogyakarta dengan stencilan gambar dirinya dalam posisi bersila dengan tulisan Oka Art Project. Entah apa tujuannya saat itu, saya hanya mengira bahwa ia ingin beralih ke medium street art. Namun seiring berjalannya waktu, dan berbagai pameran yang masih diikutinya, saya mulai memahami bahwa semua itu dilakukannya akibat energi berkesenian yang terlalu besar dalam dirinya.Bidang kanvas dan dinding galeri seolah tidak cukup untuk meluapkan hasrat ekspresinya.Ia menyadari bahwa ruang galeri tidak cukup menampung banyak orang, sementara kehendaknya ingin karya dan eksistensinya dilihat oleh lebih banyak orang.
Bagi Oka, juga seniman lainnya, berkarya dalam medium kanvas lebih bersifat individual. Ia bisa mengurung diri dalam studio dan melakukan berbagai percobaan teknis untuk menciptakan kejutan ataupun sekedar mereka ulang pengalaman puitis yang dialaminya. Kebanyakan seniman melakukannya, dengan berbagai motivasinya masing-masing. Mengejar selera estetika pasar, menggenapkan pesan di dalam karyanya, ataupun yang lain. Semua sah saja dilakukan, bahkan ada yang merasa cukup dan justru terlena dengan wilayah itu.Sementara ada seniman-seniman lain yang justru memilih keluar dari ruang studio untuk menemui langsung masyarakat, melihat bagaimana realitas terjadi dan mengolahnya menjadi karya seni.Polanya bermacam-macam, ada yang merepresentasikannya langsung di tengah masyarakat, ataupun yang kembali memanfaatkan ruang galeri sebagai medium untuk menampung seluruh temuannya di lapangan.
Untuk kepentingan konsistensi, kebanyakan seniman hanya memilih salah satu dari metode tersebut.Memilih menjadi individual dengan hanya berkutat cat di ruang studio, ataupun memilih basis komunal dengan intensitas perjumpaan bersama masyarakat. Keduanya bisa bernilai sama, tanpa perlu mendebatkan mana yang lebih terpuji. Namun menggunakan satu metode saja sepertinya tidak cukup bagi Oka. Pilihannya membagi langkah dengan tetap mengerjakan karya-karya individualnya sembari merangkul komunitas di luar dirinya untuk mengetengahkan persoalan-persoalan yang secara nyata terjadi dalam masyarakat yang dikemasnya dengan nama Oka Art Project.
Oka mengawali proyek komunalnya dengan melihat dinamika sosial yang melingkupi kota Yogyakarta. Tren komunalitas anak muda yang terdiri dari golongan intelektual, aktifis, enterpreneur, dan seniman menjadi model untuk melihat gerak pertumbuhan kota itu. Keberadaan kampus-kampus menjadi magnet yang menarik anak muda dari berbagai kota lain di Indonesia untuk datang ke Yogyakarta. Sifat yang heterogen itulah kemudian menggiring mereka untuk membentuk lokus-lokus sebagai cara untuk menyiasati pola hidup yang berbeda dari kota asalnya. Himpitan-himpitan yang muncul baik secara alami dari masyarakat setempat ataupun yang berasal dari mekanisme tata kota yang berjalan sesuai instruksi pemerintah kerap menimbulkan konflik yang menjadi perhatian golongan muda tersebut. Yang meskipun berada dalam lokus-lokus kecil, namun masing-masing dari mereka ternyata bekerja dengan tujuan yang sama.
Gejala-gejala itu nampak melalui berbagai aksi kritis yang dilakukan oleh golongan muda tersebut di berbagai ruang kota. Berbagai aspek sosial kemudian menjadi sorotan mereka seperti pertumbuhan lalu lintas, bangunan, dan kebijakan-kebijakan daerah yang dianggap pro kapitalis.Perebutan ruang-ruang yang terlanjur dikuasai pemerintah dan pemodal mustahil terelakkan, dan menjadi konflik yang berlangsung bertahun-tahun antara publik yang didominasi golongan muda ini dengan pihak pemerintah dan pemodal sebagai pemegang kuasa.Berbagai siasat mereka lakukan demi mengembalikan ruang-ruang tersebut kepada pemanfaatan oleh masyarakat.
Dinamika itu kemudian dibaca oleh Oka melalui proyek kolaborasinya dengan komunitas perupa muda di Yogyakarta seperti komunitas Tangan Reget. Proses diskusi dan berkarya bersama menjadi sarana yang dipilih untuk menerjemahkan persoalan melalui perspektif mereka dan melihat potensi berkesenian yang lebih luas dari sekedar mencipta karya, sekaligus menjawab pertanyaan seputar individualitas dan komunalitas dalam proses kekaryaan yang dijalaninya. Apakah pilihan itu tepat, ataukah semata-mata mengikuti hasrat berkeseniannya yang terlalu liar.
Sadar bahwa persoalan serupa juga dialami oleh banyak seniman seusianya, Oka kemudian berinisiatif membentuk ruang dialog bersama rekan-rekannya sesama perupa dan kurator muda. Forum itu kemudian diberi nama Weekly Art Sharing (WASH), sebuah forum yang mempertemukan pertanyaan dan gagasan-gagasan seputar proses berkesenian para perupa muda. Forum ini sekaligus menjadi ruang koreksi diri dalam proses penciptaan karya seni dan pilihan Oka dalam menekuni karir sebagai seniman.
Sejak tahun 2014, setelah lulus dari ISI Yogyakarta, Oka pada akhirnya harus memutuskan untuk pulang dan menetap di Bali. Dinamika sosial yang dihadapinya pun berbeda dengan yang pernah dialaminya di Yogyakarta. Kembali tinggal di desa dengan lingkungan tradisi yang masih melekat kuat tentu berbeda dengan kondisi Yogyakarta yang penuh konflik sosial di ruang yang mengarah urban.Sedangkan di desanya, kondisi sosialnya cenderung stabil lantaran kondisi masyarakat yang relatif homogen dengan struktur adat yang mengikat, sehingga potensi konflik sosial menjadi sangat minim.
Namun sebagaimana daerah lain di Bali, perkembangan industri pariwisata semakin mendesak posisi masyarakat dan menimbulkan berbagai dampak sosial yang dikhawatirkan oleh banyak kalangan. Perubahan pola pariwisata budaya menjadi pariwisata masal membuat arus wisatawan yang datang ke Bali semakin tidak terbendung.Penumpukan jumlah wisatawan itulah yang kemudian mendesak pemerintah Bali juga pelaku industri untuk terus memperluas kawasan pariwisata dengan membuka destinasi-destinasi baru.Termasuk ke wilayah desa Oka di kawasan Pangkung Tibah yang tak seberapa jauh dari kawasan Tanah Lot.
Persinggungan antara wisatawan dengan penduduk lokal tentu menimbulkan dampak positif dan negatif.Di satu sisi, pariwisata menjadi penggerak roda ekonomi di suatu kawasan, tapi di sisi sebaliknya juga mengubah pola hidup masyarakat agraris menjadi pekerja.Hal itu juga secara signifikan telah berpengaruh pada struktur kebudayaan yang semakin memudar.Selain dampak pada aspek kultural, jumlah manusia yang semakin banyak juga berbanding lurus dengan peningkatan produksi sampah.Persoalan sampah menjadi masalah yang paling disoroti di Bali saat ini, kekhawatiran rusaknya ekologi akibat sampah yang semakin melimpah pada akhirnya juga mengancam keberlangsungan lingkungan hidup. Dalam jangka panjang juga akan berpengaruh pada eksotisme Bali sebagai destinasi wisata.
Ancaman terhadap alam itu juga menjadi perhatian Oka setelah menetap di Bali.Oka Art Project yang semula hanya berfokus pada dinamika kerja komunal, pada akhirnya harus bersikap terhadap persoalan alam dan lingkungan yang ada di hadapannya.Oka kemudian menggabungkan mekanisme berkeseniannya dengan pola aktivisme lingkungan. Di masa awalnya terjun pada persoalan ini, barangkali Oka masih meraba-raba persoalan elementer apa yang seharusnya dikerjakan lebih dulu. Hal ini nampak dari pola kerja yang belum tersistematis dan menjangkau masalah yang terlampau luas.
Beberapa langkah awalnya seperti melakukan open studio untuk membuka ruang interaksi dengan masyarakat sekaligus edukasi seni bagi anak-anak, pemasangan bendera Oka Art project “ke(m)bali hijau” di berbagai lokasi di Bali pada hari lingkungan hidup sebagai medium kampanye peduli terhadap lingkungan hidup, dan proyek kolaborasi dengan seniman Wayan Sudarna Putra yang juga punya kepedulian serupa terhadap persoalan alam yang terjadi di Bali. Namun semua itu seolah belum menjadi metode yang paling ideal dalam mengetengahkan isu seputar lingkungan hidup di Bali.
Selain Oka, hingga saat ini ada beberapa seniman lain yang juga mengetengahkan isu lingkungan hidup. Sebut saja Wayan Sudarna Putra yang melalui proyek “Menanam Air” melakukan kampanye penanaman pohon, Made Bayak dengan proyek “Plasticology” melakukan berbagai workshop untuk pengelolaan dan pendayagunaan sampah plastik, juga ada Gede Sayur yang mengupayakan pertahanan lahan agraris melalui proyek “Not For Sale” di kawasan desa Junjungan, Ubud. Hal ini mengindikasikan bahwa persoalan alam menjadi masalah yang krusial di Bali. Kesadaran kritis terhadap kondisi alam bagi Oka dan seniman Bali lainnya secara langsung dilandasi oleh filosofi Tri Hita Karana, dimana salah satu aspek di dalamnya menyentuh hubungan antara manusia dengan alam.Sehingga ancaman terhadap keberlangsungan alam itu juga dipahami sebagai ancaman bagi keberlangsungan hidup manusia pula.
Selama berproses di Bali, Oka sendiri seperti terus melakukan percobaan terhadap metode berkeseniannya.Ia selalu menggabungkan metode berkarya individualnya dalam karya bermedium kanvas dengan pola aktivisme lingkungan tersebut. Intensitasnya terhadap isu lingkungan juga berpengaruh terhadap tema-tema dalam karya lukisnya, termasuk pada karya-karyanya dalam pameran “(Un)disposable Nature” di paruh awal tahun 2015 lalu. Meski masih pada tataran menjajaki persoalan yang dihadapinya di Bali, pameran itu seperti menjadi penegasan sikapnya terhadap masalah alam yang terjadi.Secara reflektif, mungkin bukan hanya di Bali saja, dimanapun merasakan kondisi serupa.
Selesai pameran itu sekaligus menandai proses kesenian Oka yang selanjutnya, dalam bingkai pemikiran tentang mobilitas pariwisata, Ia mulai mencari fokus terhadap persoalan yang lebih mendasar. Termasuk dalam metode aktivisme yang dilakukannya, publik yang disasarpun semakin jelas yakni para pelaku pariwisata, bukan hanya wisatawan melainkan juga masyarakat yang bekerja di sektor tersebut.Tidak jauh-jauh, kawasan pantai di dekat rumahnya menjadi wilayah kerja yang dipilih Oka. Permasalahan yang terjadi sangatlah jelas, yaitu perpindahan manusia dalam pariwisata akan selalu meninggalkan residu berupa sampah. Karena itulah, setiap minggu, Ia melakukan aksi bersih pantai sekaligus melakukan komunikasi dengan para pelaku wisata agar lebih peduli dan mampu mengelola sampahnya masing-masing.
Di awal tahun 2016 ini, Oka kembali mengubah metode kerjanya. Jika sebelumnya Ia lebih banyak meluangkan waktu untuk terjun langsung melalui pola aktivisme, proyek barunya yang berlabel “Eco-ko” mencoba menyasar publik yang lebih luas. Dengan memanfaatkan kultur massa yang sedang tren di kalangan muda yaitu fashion, Oka kemudian membuat label clothingnya sendiri. Tujuannya bukan semata-mata profit finansial, melainkan mutlak untuk meraih perhatian publik yang lebih masif. Setiap penjualan satu buah kaos produksinya, maka pembeli akan mendapatkan satu bibit pohon. Oka sadar betul bahwa fashion akan lebih mudah menyebarkan gagasannya, mengikuti langkah orang yang mengenakannya.
Pengalaman terjun langsung ke dalam persoalan yang berlangsung dalam masyarakat menjadi metode yang dipilih Oka untuk menyampaikan gagasanya kepada publik luas tanpa adanya sekat apapun, sedangkan proses kekaryaannya melalui medium kanvas juga tetap dilakoninya sebagai laku yang memperkaya batinnya. Dengan terus mengolah apa yang ditemukannya di lapangan, tentu kita semua berharap semua itu bisa menjadi proses pembelajaran sekaligus menjadi bahan bakar bagi penciptaan karya-karya Oka kedepannya. Dalam kurun yang relatif singkat, Oka seperti tidak bisa bertahan untuk berhenti pada satu metode, Ia terus menggali potensi dan cara untuk mencapai tujuannya secara lebih cepat. Setelah lima tahun usia Oka Art Project, lompatan apa yang akan dilakukan Oka di masa mendatang? Pilihannya untuk berpijak di dua kaki sekaligus semestinya bisa memberinya keseimbangan dalam menjalani laku keseniannya, tentu dengan harapan bahwa jangan sampai ada pincang di salah satu kakinya.
*) Dwi S. Wibowo, penulis seni dan sastra
