OKA Art News

News Detail

“Nandur Beton”, Ironi Budaya Agraris diTanah Surga

“Nandur Beton”, Ironi Budaya Agraris diTanah Surga

by Oka Art Project 2019

Dari sejarah perjuangan agraria yang pernah ada, kaum tani yang merupakan mayoritas penduduk dan golongan yang paling dirugikan dalam sistem ekonomi yang sedang berlangsung, dapat disebut sebagai salah satu kekuatan pokok perubahan. Mereka yang berperan dalam setiap gerakan tidak lain adalah para petani yang menolak penindasan dan penghisapan akibat monopoli tanah yang sejak 1989-an sampai sekarang terus berkembang luas. Keresahan-keresahan yang mengarah pada gerakan itu tentu tidak lepas dari kondisi sosial-ekonomi yang dihadapi para petani, yaitu perampasan tanah, tekanan pajak, kenaikan barang kebutuhan pokok, sistem bagi hasil, persewaan tanah maupun liberalisasi perdagangan produk pertanian. Jika kemerosotan kedudukan ekonomi maupun politik kaum tani pada zaman colonial terjadi karena perubahan sosial dan ekonomi kolonial yang intensif di sektor agrarian, maka saat ini terjadi karena program pembangunan, politik agrarian, dan pertanian pada zaman Orde Baru dan Reformasi yang dapat dikatakan justru memperkuat dan mengembangkan struktur ekonomi kapitalisme, hanya melanjutkan basis yang sudah dibangun kolonialisme.
Sudah menjadi kenyataan bahwa setiap pembangunan yang dilakukan di masyarakat desa akan menimbulkan dampak sosial dan budaya bagi masyarakat. Pendapat ini didasarkan pada asumsi bahwa pembangunan itu adalah proses perubahan (sosial-budaya). Masalah dampak akibat pembangunan demikian sering muncul ke permukaan karena sudah banyak korbanya dan cukup menyulitkan para pelaku pembangunan itu sendiri. Masyarakat desa yang agraris dengan sendirinya merupakan sasaran utama introduksi teknologi segala kepentingan, kemajuan pertanian melibatkan unsur-unsur pokok tersebut. Oleh karena itu, masyarakat agrarislah yang pertama menderita perubahan sosial.
Kondisi lingkungan dewasa ini ditenggarai semakin mencemaskan. Di banyak tempat, tanah semakin tidak produktif, bahkan sebagian tidak dapat ditanami lagi. Air semakin tercemar dan tidak layak untuk diminum. Udarapun semakin terpolusi sehingga menyesakan nafas. Runyamnya lagi, banyak hutan menjadi gundul akibat dari lemahnya kontrol dalam proses penebangan dan upaya reboisasi yang lamban.
Ada beberapa faktor penting yang berkaitan dengan kerusakan lingkungan. Pesatnya peningkatan jumblah penduduk dan perkembangan industri. Perkembangan industri khususnya industri pariwisata Bali memang telah terbukti mampu menjawab persoalan kemiskinan dan kesenjangan sosial, tetapi ternyata harus dibayar amat mahal karena menimbulkan dampak negatif terhadap kelestarian lingkungan. Pesatnya pertumbuhan industri telah terjadi erupsi pada tanah pertanian serta penggaraman pada tanah yang produktif. Disamping itu, telah terjadi proses pendangkalan sungai dan danau. Apabila kecenderungan semacam itu dibiarkan, bukan mustahil kehidupan manusia kelak menjadi lebih sengsara. Kehidupan anak cucu kita akan menderita karena alam tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan dasar mereka. Tanah tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal untuk memenuhi kebutuhan papan, melainkan juga sebagai tempat sandaran hidup untuk memenuhi kebutuhan pangan.
Melihat dinamika pembangunan industri pariwisata dan alih pungsi lahan produktif yang begitu cepat di Bali, saya merespon dengan membuat karya instalasi dengan judul “Nandur Beton”. Seperti yang kita ketahui Bali memiliki krindahan alam dan budaya yang mempersona serta menjadi daya tarik wisatawan. Industri pariwisatapun melejit pesat, hotel, villa, penginapan, perumahan, restoran dan lainnya tumbuh bagai jamur diatas lahan-lahan produktif sawah dan ladang di Bali. Budaya agrarisnya dengan organisasi subaknya seakan tidak mempunyai daya menahan atau membendung serangan industri pariwisata yang hegemoni dan perkasa tersebut. Hamparan sawah tibah-tiba disulap menjadi bangunan-bangunan perumahan dan villa, ladang-ladang dibelah oleh jalan yang begitu lebar. Desa yang dulu tenang dan damai tiba-tiba bergemuruh dan bergeliat penuh sesak dan bising oleh aktivitas pembangunan disegala bidang. Musim tanam padi kali ini dibarengi dengan musim tanam beton oleh para insvestor. Pertanyaan yang ada dibenak saya, apakah musim depan para petani masih bisa menanam padi? Sampai kapan budaya agraris kita mampu bertahan dari serangan industri ini? Semoga kita kembali diingatkan dengan konsep Tri Hita Karana yaitu bagian palemaha, hubungan yang baik antara manusia dan alam.