OKA Art News

About Us

 

Profil Gede Oka Astawa

Gede Oka Astawa seniman muda lahir di Desa Pangkung Tibah-Kediri, Tabanan, Bali, 06 juni 1989. Lulus dari jurusan seni lukis Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Bali tahun 2009 dan melanjutkan pendidikan di jurusan Seni Murni Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta angkatan 2009 dan lulus pada tahun 2014.

Sejak tahun 2011, Oka mulai menata energi berkeseniannya dalam suatu gerakan yang dia sebut Oka Art Project. Art Project bisa diartikan sebagai sesuatu yang terencana, berproses, memiliki proyeksi ke depan dalam ranah berkesenian. Sedangkan ‘Oka’, merujuk pada nama dan dirinya sendiri dalam kaitan sebagai individu maupun sosial. Melalui Project ini, Oka ingin menghadirkan suatu wadah untuk belajar bersama, berproses menemukan sesuatu yang bermakna sebagai pendorong langkah melaju ke depan.

Oka merupakan sosok perupa muda yang haus akan pengetahuan. Dia selalu memiliki keberanian yang lebih untuk mencoba sesuatu yang beda. Beda dan berani mungkin kata itu yang bisa mewakili sepak terjang perupa ini dalam berkesenian. Beda karena berani melakukan pergerakan di luar zona nyaman aktivitas seni rupa pada umumnya. Hal ini ditunjukkan melalui sejumlah kegiatan dalam balutan label Oka Art Project. Melalui wadah Oka Art Project, dia menemukan tempat berpetualang, bereksprimen dengan ide dan gagasan serta mencoba memanfaatkan media-media atau bentuk-bentuk seni yang lain. Selain itu, project ini menjadi arena menumpahkan keresahan dan kegelisahan yang dia temui baik muncul dari lingkungan internal maupun eksternal. Mulai dari perihal eksistensi sebagai seniman, keberadaan seniman dengan lingkungan sosial, hingga perhatian terhadap lingkungan alam yang semakin terdesak di tengah ingar-bingar industri pariwisata.

Oka Astawa membekali dirinya dengan kekuatan budaya Bali terutama pada aspek pengalaman sosial, keselarasan alam dan nilai-nilai kearifan lokal.Dengan pemahaman filosofis tersebut, Oka menyikapinya sebagai kearifan lokal yang hidup dan bertumbuh, sehingga memerlukan interpretasi dan reposisi yang tepat sehingga dapat menyelami spirit jaman yang sedang berkembang.

Geliat kreativitas Oka Astawa sejak awal memang memiliki ketertarikan pada aspek ekologi. Sebagai anak petani yang hidup dipelukan kebun, ladang , persawahan dan hutan berbukit, menumbuhkan pengalaman bawah sadarnya akan keterikatan atas alam. Beberapa tahun terakhir ini, daya hidup berkarya Oka menyiarkan tentang lingkungan. Baginya sangat penting kehadiran dan kekritisan seniman dalam mengelola karyanya untuk melibatkan lebih banyak peran serta apresian dan mengenalkan lebih dekat akan pemahaman ekologi; eco art, nature art, lands art serta seni berbasis lingkungan.

Membaca Oka sebagai perupa dalam “ruang” kreatifitas personalnya adalah dengan mencoba menelisik bagaimana Oka menumpahkan gagasan, menghadirkan opininya yang secara spesifik tertuangkan dalam karyanya.Berhadapan dengan sehamparan visual pada kanvas – kanvas Oka Astawa yang segera dapat terbaca adalah sebentuk abstraksi. Cipratan maupun lelehan yang merupakan karakteristik artistic yang umum kita lihat pada karya – karya pelukis abstrak adalah hal yang dominan pada karya – karya Oka. Namun cipratan cipratan tersebut terkontruksi menjadi figur – figur dalam berbagai gestur yang terkadang menyiratkan semangat, gejolak, dan kondisi emosional lainnya termasuk juga gestur yang terlihat natural wajar apa adanya. Figur – figur pada karya Oka adalah figur figur anonim, ia bisa menjadi (si)apa saja, bisa saja menjadi dirinya, bisa juga menjadi orang lain, bisa juga menjadi kita, atau bahkan menjadi representasi dari alam itu sendiri.

Cara Oka dalam menghadirkan dan mengkontruksi figur – figur tersebut juga menarik untuk dicermati. Pertama Oka membiarkan segala emosinya tertumpahkan Ia membuat cipratan –cipratan, lelehan – lelehan yang meluber begitu saja pada satu bidang kanvas. Kemudian Ia melakukan semacam penyeleksian dari hasil tumpahan emosinya tersebut dengan cara memotong – motong bagian dari aneka rupa efek visual tersebut. Potongan – potongan tersebut kemudian ia pindahkan ke bidang kanvasnya yang baru, Ia tata dan kontruksi sedemikian rupa membentuk figur – figur dalam gestur tertentu sesuai dengan gagasan tematik yang hendak Ia sampaikan dalam karyanya. Kerja bertahap dan berlapis, yang ber-ulak – alik dari upaya membebaskan dan membiarkan sepenuhnya emosi tertumpah dalam menciprat lalu berlanjut pada upaya menata kembali, sesuatu yang terlihat “liar” bebas tanpa control tersebut menunjukkan suatu permainan emosi pada diri Oka. Sebuah negosiasi antara keliaran, ekspresif untuk menjadi suatu yang tertata.Ada transformasi dari suatu kondisi disorder menuju order.

Menyimak cara kerja Oka dalam menghadirkan karyanya ini, Oka yang seperti sedang membongkar dan mempertanyakan kembali tentang metode melukis secara ekspresionistik. Dalam praktik melukis abstrak ekspresionistik yang dipahami selama ini adalah upaya untuk menumpahkan ekspresi dan emosi sang seniman secara bebas, image, representasi, adalah suatu yang bukan menjadi tujuan melainkan bagaimana rupa itu hadir secara apa adanya, tumpah begitu saja, yang tersaji kemudian adalah sehamparan visual yang formal, otonom, tanpa terbebani dengan muatan di luar perkara visual itu sendiri. Namun Oka melakukan hal yang sebaliknya, Ia mengambil jalan melingkar, Ia berupaya menjadikan sesuatu efek visual non representasional menjadi sesuatu yang representasional. Ada pernyataan yang hendak dibangun, ada persoalan di luar perkara estetik yang hendak Ia tuturkan.